Kutai Timur — Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi mengingatkan agar perbedaan politik tidak memengaruhi pembinaan olahraga. Ia menilai kepentingan politik yang dibawa terlalu jauh ke dalam olahraga justru bisa berujung pada rusaknya prestasi dan merugikan atlet secara luas.
Menurut Mahyunadi, politik dan olahraga sebenarnya dapat berjalan beriringan dengan baik apabila ditempatkan pada porsinya masing-masing. Namun, pembinaan atlet profesional harus tetap ditempatkan di atas kepentingan politik praktis, terutama ketika terjadi dinamika pergantian kepemimpinan di daerah.
“Politik dan olahraga baik kalau dipadukan, tetapi banyak juga olahraga rusak gara-gara politik. Politik jangan sampai melukai prestasi,” kata Mahyunadi (21/9/2026).
Ia mencontohkan kisah Sriwijaya FC yang sempat menjadi salah satu klub sepak bola langganan juara di tanah air. Menurut Mahyunadi, klub tersebut kemudian mengalami kemunduran drastis setelah dikaitkan langsung dengan kepentingan politik salah satu calon kepala daerah tertentu.
“Dulu yang langganan juara itu Sriwijaya FC. Begitu Sriwijaya FC dijadikan etalase bagi salah satu calon bupati incumbent di sana, ternyata incumbent yang mendukung Sriwijaya FC itu kalah. Begitu ganti pemimpin, hancur Sriwijaya,” ujarnya.
Mahyunadi mengingatkan agar pengalaman pahit tersebut jangan sampai terulang kembali di Kutim. Pemerintah daerah harus tetap menjaga keberlangsungan pembinaan olahraga meski terdapat perbedaan pilihan politik di antara pengurus organisasi olahraga dan pemerintah.
Ia bahkan menyinggung hubungan politik antara dirinya dengan jajaran KONI Kutim. Mahyunadi mengakui ketua KONI tidak memberikan dukungan kepadanya, tetapi hal tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi perhatian terhadap atlet.
“Ketua KONI memang tidak mendukung saya, tapi saya sadar banyak atlet-atlet di bawah KONI yang mendukung saya. Bagaimana kalau kita hancurkan ini? Maka mencederai seluruh atlet dan olahraga, baik yang dukung saya maupun yang tidak mendukung,” katanya.
Karena itu, Mahyunadi menegaskan pembinaan olahraga Kutim harus tetap berjalan tanpa dipengaruhi perbedaan politik.
“Prestasi atlet dan keberlanjutan pembinaan dinilai harus menjadi kepentingan bersama, terlepas dari pilihan politik masing-masing pihak,” demikian ujar Mahyunadi.ADV
![]()

Tidak ada komentar