Kutai Timur – Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menghadapi tantangan besar sepanjang tahun ini. Kebijakan efisiensi anggaran membuat sejumlah program seni dan budaya yang sebelumnya rutin digelar harus dibatalkan.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Padliansyah, mengungkapkan bahwa penghematan tidak hanya terjadi di instansinya, namun juga di seluruh organisasi perangkat daerah (OPD).
“Efisiensi terjadi di semua dinas. Festival-festival yang biasanya selalu kami laksanakan setiap tahun, terpaksa ditiadakan,” tutur Padliansyah kepada awak media.
Dari sekian banyak agenda yang direncanakan, hanya empat event utama yang masih dapat dipertahankan hingga akhir tahun. Tiga di antaranya telah terlaksana, sementara satu kegiatan lainnya masih menunggu waktu pelaksanaan.
“Yang bisa kami jalankan hanya empat kegiatan seni budaya. Tiga sudah terealisasi, satu lagi menyusul,” ujarnya.
Salah satu kegiatan yang tetap digelar adalah Festival Magic Land. Meski demikian, pelaksanaannya sempat mengalami penyesuaian jadwal akibat anggaran yang belum cair tepat waktu.
“Karena anggaran belum digedok, akhirnya kami undur. Tidak masalah mundur satu bulan, yang penting tetap terlaksana,” jelasnya.
Selain itu, Disdikbud Kutim juga menyiapkan beberapa agenda lain seperti Festival Seni Budaya, Festival Musik Anti Narkoba, serta pameran sejarah Nabi yang saat ini masih berlangsung di Masjid Agung Al-Faruq, Sangatta.
Di sisi lain, kegiatan yang berkaitan dengan adat terpaksa mengalami pemangkasan lebih besar. Festival adat yang semula direncanakan melalui dukungan APBD akhirnya dibatalkan sepenuhnya karena keterbatasan anggaran.
“Semula ada rencana, tapi akhirnya dihapuskan semua. Bahkan kelas-kelas tanah juga tidak bisa lagi dilaksanakan tahun ini,” ungkap Padliansyah.
Meski harus menghadapi keterbatasan fiskal, Disdikbud Kutim tetap berupaya menjaga agar aktivitas seni dan budaya tidak berhenti sepenuhnya. Peran komunitas serta organisasi seni menjadi penopang penting agar geliat kebudayaan di Kutai Timur tetap hidup hingga akhir tahun.ADV
![]()

Tidak ada komentar