Keluarga Berisiko Stunting Kutim Diverifikasi, Bantuan Enam Bulan Belum Cukup

waktu baca 2 menit
Senin, 12 Okt 2026 16:03 0 33 Redaksi

Kutai Timur – Penanganan keluarga berisiko stunting di Kabupaten Kutai Timur masih membutuhkan verifikasi hingga tingkat kecamatan agar bantuan yang diberikan benar-benar menyasar keluarga sesuai kondisi dan data lapangan.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Kutai Timur, Yuriansyah mengatakan, verifikasi keluarga berisiko stunting menjadi salah satu fokus tugas DPPKB sehingga proses pemantauan dilakukan dengan mendatangi kecamatan.

“Kami keliling ke kecamatan-kecamatan melakukan jemput bola terkait keluarga berisiko stunting sekaligus menyampaikan atau menyerahkan bantuan dari Baznas,” ujar Yuriansyah di Kantor DPPKB Kutai Timur, Senin (12/10/2026).

Menurutnya, bantuan tersebut diberikan berdasarkan data dari Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) yang bekerja di desa maupun kecamatan sehingga penerima ditentukan dari keluarga yang masuk kategori berhak mendapatkan dukungan.

Bantuan dari Baznas berupa makanan tambahan menjadi bagian dari intervensi yang diberikan kepada keluarga berisiko stunting, sementara DPPKB tetap melanjutkan proses verifikasi dan penanganan sesuai tugasnya.

“Bantuan tersebut berupa makanan tambahan bagi keluarga yang berhak menerima berdasarkan data dari PLKB yang ada di lapangan, baik di desa maupun kecamatan,” jelasnya.

Kegiatan verifikasi dan kunjungan ke kecamatan disebut telah dilakukan, tetapi penyaluran bantuan masih berlanjut kepada keluarga yang masuk dalam data sasaran sehingga proses intervensi belum berhenti pada tahap pendataan.

Yuriansyah menyebutkan, bantuan Baznas diberikan selama sekitar enam bulan dengan setiap keluarga berisiko stunting memperoleh satu paket makanan tambahan setiap bulan.

“Kegiatan ke kecamatan sudah kami lakukan dan sekarang tinggal melanjutkan bantuan yang harus diserahkan kepada keluarga berisiko stunting,” tuturnya.

Skema tersebut menunjukkan penanganan keluarga berisiko stunting tidak hanya membutuhkan penyaluran bantuan, tetapi juga ketepatan verifikasi agar intervensi berbasis data lapangan dan tidak berhenti pada pemberian makanan tambahan semata.

“Bantuan dari Baznas itu diberikan sekitar enam bulan dan setiap keluarga berisiko stunting mendapatkan satu paket makanan tambahan setiap bulan,” tandasnya. (SH/ADV)

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA