Kutai Timur – Pemanfaatan maggot sebagai sumber protein untuk pakan unggas mulai dilirik di Kabupaten Kutai Timur, meski penggunaannya di kalangan peternak setempat dinilai belum terlalu familiar sehingga potensinya masih perlu dikembangkan.
Konsep tersebut menawarkan pemanfaatan maggot sebagai sumber protein alternatif bagi unggas sekaligus membuka peluang pengolahan sisa makanan agar tidak seluruhnya berakhir sebagai limbah yang terbuang.
Plt Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Peternakan (DTPHP) Kabupaten Kutai Timur Cut Meutia mengatakan pemanfaatan maggot lebih diarahkan pada kandungan protein yang dapat mendukung kebutuhan pakan unggas.
“Kalau yang maggot itu mungkin lebih ke protein, istilahnya, kalau di sini belum terlalu familiar,” kata Cut Meutia di ruang kerjanya.
Menurut dia, budidaya maggot sebenarnya sudah mulai dilakukan, salah satunya karena organisme tersebut memiliki perkembangan yang relatif cepat sehingga berpotensi dimanfaatkan dalam sistem peternakan.
“Cuman masih ada budidaya untuk maggot itu sendiri, mungkin karena lebih cepat perkembangannya,” ujarnya.
Maggot kemudian dapat diberikan kepada unggas sebagai bagian dari pakan karena kandungan proteinnya disebut lebih tinggi, sehingga keberadaannya berpotensi menjadi salah satu sumber bahan pakan bagi peternak.
“Maggot kan seperti sejenis ulat yang dikasih ke unggas karena proteinnya lebih tinggi,” sebutnya.
Potensi lain berada pada pemanfaatan sisa makanan yang dapat diberikan kepada maggot, sehingga bahan yang sebelumnya berpotensi terbuang dapat dimanfaatkan kembali dalam rangkaian budidaya.
“Bisa, sisa makanan itu bisa diberikan ke maggot, jadi sisa makanan itu tidak terbuang sia-sia,” tuturnya.
Meski demikian, Cut Meutia menyebut maggot belum terlalu familiar di Kutai Timur sehingga pengembangannya masih membutuhkan pemanfaatan yang lebih luas agar konsep tersebut dapat dikenal dalam kegiatan peternakan.
Dari sisi peternakan, pemanfaatan maggot membuka peluang keterhubungan antara pengelolaan sisa makanan dan penyediaan sumber protein untuk unggas, meski penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi kelompok peternak di lapangan.
Potensi tersebut menjadi salah satu alternatif yang dapat dilirik dalam pengembangan peternakan unggas, terutama karena budidaya maggot memungkinkan sisa makanan dimanfaatkan kembali dan tidak berhenti sebagai bahan yang terbuang. (SH/ADV)
![]()

Tidak ada komentar