Kutai Timur – Upaya memutus mata rantai penularan tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Kutai Timur masih menghadapi tantangan luasnya sasaran pemeriksaan yang kini mencakup 118 lokus dengan sekitar 100 orang diperiksa pada setiap lokus.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Dinkes Kutim), Sumarno mengatakan, pemeriksaan tersebut merupakan kegiatan dari Kementerian Kesehatan yang sedang berjalan untuk mempercepat penemuan kasus TBC di masyarakat.
Menurutnya, penemuan satu kasus positif tidak berhenti pada pasien yang teridentifikasi karena petugas akan melanjutkan investigasi kontak terhadap anggota keluarga maupun orang yang memiliki hubungan erat dengan pasien.
“Untuk memberantas TBC, sekarang kita ada 118 lokus yang diperiksa dan kegiatan dari Kementerian Kesehatan ini sedang berjalan,” ujar Sumarno di Kantor Dinkes Kutim, Rabu (7/10/2026).
Ia menjelaskan, pemeriksaan kontak menjadi bagian penting untuk menemukan kemungkinan penularan lebih luas, dengan kontak yang dinyatakan positif langsung mendapatkan pengobatan sedangkan hasil negatif diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).
Dari sisi fasilitas, pemeriksaan TBC kini didukung alat Tes Cepat Molekuler (TCM) yang tersedia di sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk Puskesmas, rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Muara Bengkal.
“Nantinya dari Kementerian Kesehatan juga akan diberikan alat NPOC sehingga pemeriksaan TBC dapat dilakukan lebih cepat,” jelasnya.
Tantangan berikutnya berada pada kepatuhan pasien menyelesaikan pengobatan karena TBC sensitif obat umumnya membutuhkan terapi sekitar enam bulan dan pengobatan harus dituntaskan untuk mencegah persoalan lanjutan.
“TBC memang penyakit menular, tetapi setelah pasien menjalani pengobatan selama kurang lebih dua bulan dan kondisinya sudah sesuai kriteria, risiko penularannya sudah jauh berkurang,” tuturnya.
Sumarno mengingatkan, pengobatan yang terputus dapat memicu munculnya TBC resistan obat yang membutuhkan masa pengobatan lebih panjang, sekitar sembilan bulan hingga satu tahun bergantung pada kondisi pasien.
Karena itu, setiap desa juga memiliki kader atau pendamping minum obat yang membantu memantau pasien selama menjalani terapi sehingga pengobatan tidak terhenti sebelum seluruh rangkaian diselesaikan.
“Kalau pengobatan terputus, dapat muncul TBC resistan obat yang membutuhkan pengobatan lebih lama, sekitar sembilan bulan hingga satu tahun tergantung kondisi pasien,” tandasnya. (SH/ADV)
![]()

Tidak ada komentar