DBD Kutim Diantisipasi, Deteksi Dini dan Pemberantasan Sarang Nyamuk Masih Krusial

waktu baca 2 menit
Rabu, 7 Okt 2026 09:45 0 22 Redaksi

Kutai Timur – Ancaman demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Kutai Timur diantisipasi melalui penguatan pemantauan di lapangan, terutama menjelang musim pancaroba yang berpotensi meningkatkan risiko penularan.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Dinkes Kutim), Sumarno mengatakan, pemantauan dilakukan melalui kader juru pemantau jentik (jumantik), petugas surveilans dan petugas DBD yang berada di setiap Puskesmas.

Menurutnya, kesiapan petugas menjadi penting karena perubahan musim membutuhkan respons cepat ketika ditemukan indikasi peningkatan penyakit di masyarakat sehingga langkah pencegahan dapat segera dilakukan.

“Menjelang musim pancaroba, teman-teman di lapangan sudah kami ingatkan untuk bergerak cepat dalam melakukan pencegahan dan pemantauan,” ujar Sumarno di Kantor Dinkes Kutim, Rabu (7/10/2026).

Pemantauan penyakit juga diperkuat melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) yang menerima laporan dari setiap Puskesmas sehingga perubahan pola penyakit dapat diketahui lebih cepat.

Jika terjadi peningkatan penyakit tertentu, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), laporan SKDR menjadi dasar bagi Puskesmas untuk mengambil langkah pencegahan sesuai kondisi yang ditemukan di wilayah masing-masing.

Untuk DBD, Sumarno menegaskan fogging bukan langkah utama karena pencegahan harus diarahkan pada pemutusan mata rantai penularan dan pemberantasan tempat yang menjadi lokasi berkembang biaknya nyamuk.

“Untuk DBD, fogging sebenarnya merupakan langkah terakhir karena yang paling utama adalah memutus mata rantai penularan dan memberantas tempat berkembang biaknya nyamuk,” jelasnya.

Karena itu, masyarakat tetap diminta menjalankan gerakan 3M plus, yakni menguras, menutup atau mengubur tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk serta melakukan langkah pencegahan tambahan lainnya.

Deteksi kondisi pasien juga menjadi perhatian karena demam akibat DBD tidak selalu langsung menunjukkan kondisi berat pada awal sakit dan kondisi pasien dapat memburuk pada hari keempat atau kelima sehingga pemeriksaan sejak muncul gejala menjadi penting.

“Sekarang rumah sakit juga sudah mendapatkan RDT untuk pemeriksaan cepat sehingga pasien yang datang dengan gejala DBD dapat segera diperiksa dan ditangani,” tandasnya. (SH/ADV)

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA