Wakil Bupati Kutim Minta Data Atlet Tak Berhenti Setelah Aplikasi Diluncurkan

waktu baca 2 menit
Kamis, 24 Sep 2026 15:14 0 12 Redaksi

Kutai Timur— Digitalisasi olahraga Kutai Timur (Kutim) diminta tidak berhenti setelah aplikasi dan website selesai dibuat. Data atlet harus terus diisi dan diperbarui agar perkembangan prestasi dapat dipantau sejak usia muda.

Wakil Bupati Kutim Mahyunadi mengatakan, sistem tersebut nantinya harus mampu merekam perjalanan seorang atlet dari awal pembinaan hingga perkembangan prestasinya.

Dengan begitu, pemerintah daerah dan KONI dapat mengetahui lebih cepat ketika seorang atlet mulai menunjukkan peningkatan kemampuan.

“Suatu saat kita harus mempunyai sistem yang mampu melihat perjalanan seorang atlet sejak usia muda. Ketika prestasinya meningkat, pemerintah dan KONI dapat mengetahui lebih awal sehingga pembinaannya tidak terlambat,” kata Mahyunadi.

Namun, ia mengingatkan sistem digital tidak akan banyak membantu jika data di dalamnya tidak dikelola. Setelah aplikasi selesai, menurutnya harus ada pembagian tugas yang jelas terkait siapa yang memasukkan data, melakukan verifikasi dan memperbaruinya.

Ia tidak ingin aplikasi yang dibangun dengan baik hanya aktif saat pertama diluncurkan, kemudian tidak lagi diperbarui beberapa bulan setelahnya.

“Jangan sampai aplikasinya bagus ketika diluncurkan, tetapi enam bulan kemudian datanya sudah tidak terurus. Saya ingin digitalisasi olahraga Kutai Timur mempunyai tiga prinsip, datanya lengkap, datanya akurat dan datanya selalu diperbarui,” ujarnya.

Mahyunadi juga mengingatkan para atlet agar tidak menganggap teknologi sebagai penentu prestasi. Aplikasi hanya menjadi alat untuk membantu proses pembinaan, sedangkan prestasi tetap ditentukan oleh proses latihan dan kesiapan atlet.

Menurutnya, atlet tetap membutuhkan latihan disiplin, kerja keras dan mental bertanding. Kompetisi dengan atlet lain juga diperlukan untuk mengukur kemampuan secara nyata.

“Teknologi hanyalah alat. Prestasi tetap lahir dari latihan, disiplin, kerja keras, mental bertanding dan kemampuan untuk terus memperbaiki diri,” katanya.

Ia menilai keberadaan sparring partner juga penting agar atlet tidak hanya mengukur kemampuan berdasarkan latihan sendiri.

“Pertandingan dengan lawan yang memiliki kemampuan berbeda dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui kekurangan sekaligus menentukan bagian yang masih perlu diperbaiki,” tegasnya.

Dengan pengelolaan data yang konsisten dan pembinaan yang tetap bertumpu pada latihan, digitalisasi diharapkan tidak sekadar menjadi sistem administrasi, tetapi benar-benar membantu membaca perkembangan atlet Kutim dari waktu ke waktu.ADV

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA