Stunting Sangatta Selatan Tak Cukup Diatasi PMT, Sanitasi dan Hunian Disorot

waktu baca 2 menit
Selasa, 15 Sep 2026 11:59 0 38 Redaksi

Kutai Timur – Penanganan keluarga berisiko stunting di Kecamatan Sangatta Selatan dinilai tidak cukup hanya mengandalkan pemberian makanan tambahan (PMT), karena kondisi setiap keluarga memiliki kebutuhan yang berbeda.

Camat Sangatta Selatan Dewi Dohi menilai pendekatan yang hanya berfokus pada PMT berisiko tidak tepat sasaran apabila persoalan yang dihadapi keluarga justru berkaitan dengan kondisi tempat tinggal, sanitasi atau kemampuan ekonomi.

Menurut dia, keluarga yang masuk dalam indikator risiko stunting memiliki persoalan beragam, sehingga kebutuhan intervensi perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga yang telah teridentifikasi.

Camat Sangatta Selatan Dewi Dohi mengatakan ketepatan data menjadi dasar penting sebelum menentukan bentuk intervensi, di Kantor Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur.

“Menurut saya kalau datanya tidak valid maka pendekatan yang kita gunakan juga jadi sia-sia,” kata Dewi.

Ia menyoroti pola penanganan di tingkat desa yang menurutnya masih banyak mengandalkan pemberian makanan tambahan sebagai bentuk intervensi kepada keluarga yang masuk dalam kelompok risiko.

“Teman-teman di desa sekarang langsung PMT, PMT, PMT, pemberian makanan tambahan,” ujarnya.

Setelah mempelajari kondisi keluarga risiko stunting, Dewi menyebut persoalan yang menjadi indikator tidak hanya berkaitan dengan kekurangan makanan atau gizi, tetapi dapat mencakup kondisi lingkungan tempat tinggal dan keadaan keluarga.

“Bukan hanya permasalahan kekurangan makan atau kekurangan gizi, permasalahannya bisa masuk indikator keluarga risiko ketika toiletnya bermasalah,” tuturnya.

Kondisi rumah juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan, termasuk ketika keluarga tinggal di rumah yang tidak layak huni atau memiliki pendapatan yang dinilai tidak memadai.

“Rumahnya tidak layak huni, pendapatannya tidak memadai,” jelasnya.

Dewi juga menyebut kondisi jumlah anak dalam keluarga dapat menjadi bagian dari indikator risiko, sehingga kebutuhan setiap keluarga tidak dapat disamaratakan dalam pemberian bantuan.

“Kalau pendekatan yang kita lakukan hanya pemberian makanan tambahan, saya kira tidak tepat sasaran, kebutuhannya tidak semua sama,” tandasnya.

Karena itu, intervensi diharapkan disesuaikan dengan kebutuhan keluarga yang telah teridentifikasi, mulai dari bantuan toilet, rumah layak hingga pemenuhan sanitasi yang layak agar penanganan tidak berhenti pada pemberian makanan tambahan. (SH/ADV)

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA