Kutim Gelar Empat Agenda Budaya dan Literasi untuk Perkuat Karakter Pelajar

waktu baca 3 menit
Senin, 24 Nov 2025 03:59 0 39 Redaksi

Kutai Timur – Dunia pendidikan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini tidak hanya menekankan akademik, tetapi juga penguatan budaya dan literasi.

Menjelang akhir tahun, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim menyiapkan empat agenda kebudayaan besar sepanjang November. Kegiatan ini memberi ruang bagi pelajar dan masyarakat untuk mengekspresikan kreativitas serta mengenal sejarah lokal dan global.

Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menyatakan bahwa agenda budaya merupakan bagian penting dari pembinaan karakter siswa.

“Ada festival Magic Land, itu rutin. Kemudian ada pameran Jejak Nabi dan Rasul dari Arab sampai ke Kutim,” ujar Mulyono kepada awak media.

Pameran Jejak Nabi dan Rasul berlangsung selama sepekan, mulai 16 hingga 23 November, di kawasan Masjid Agung. Berbagai lomba seperti hapsi, mewarnai, dan aktivitas edukatif untuk keluarga akan mengisi acara ini.

Selain itu, Disdikbud juga menghadirkan Festival Kebudayaan yang melibatkan komunitas lokal. Festival Musik Anti-Narkoba juga digelar, memberikan kesempatan bagi anak muda menyampaikan pesan moral melalui seni.

Agenda terbesar ditutup dengan Festival Literasi Daerah, bekerja sama dengan Nyalanesia.

“Pesertanya nanti ada 13.000 orang. Perwakilan dari semua sekolah,” kata Mulyono. Festival ini bahkan menargetkan rekor MURI untuk partisipasi pelajar terbanyak dalam kegiatan literasi.

Menurut Mulyono, kegiatan budaya bukan sekadar hiburan, tetapi jembatan membangun karakter dan identitas daerah.

“Kami ingin kegiatan budaya ini menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak,” tuturnya.

Melalui serangkaian agenda ini, Kutim berupaya menghadirkan pendidikan yang utuh: cerdas, berkarakter, dan mencintai budaya.

Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menekankan bahwa sertifikasi bukan sekadar simbol formalitas, melainkan legitimasi yang meningkatkan martabat seniman.

“Kita ini pelaku seni, ahli, atau senior, tapi tidak punya legalitas. Dengan adanya kegiatan ini kita tahu apa saja yang perlu kita persiapkan untuk mendapatkan pengakuan berupa sertifikat,” ucap Mulyono kepada awak media.

Acara ini menghadirkan dua narasumber dari Dewan Kesenian Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Hamdani dan Irmansyah, yang menurut Mulyono merupakan sosok berpengalaman. Kehadiran mereka dianggap sebagai kesempatan berharga bagi seniman lokal untuk memahami standar kompetensi langsung dari ahlinya.

Selain pengakuan formal, legalitas sertifikat juga berdampak pada aspek ekonomi.

“Setahu saya, yang punya sertifikat dan yang tidak punya sertifikat honornya beda. Itu penting. Tapi itu bonus saja,” ujar Mulyono.

Pemerintah menegaskan bahwa sertifikasi bukan hanya untuk mengakui kemampuan teknis, tetapi juga memberikan perlindungan profesional bagi pelaku seni. Program ini telah dilaksanakan tiga kali dan akan berlanjut tahun berikutnya dengan agenda sertifikasi langsung. Tidak ada batasan umur bagi peserta.

“Seniman apa saja boleh,” tuturnya, seraya mendorong para peserta agar memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin.

“Segera menindaklanjuti agar mendapatkan penghargaan,” tambah Mulyono.

Ia juga membuka akses bagi seniman di kecamatan lain yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut untuk menghubungi bidang kebudayaan.

Dengan langkah ini, Kutim berupaya memastikan seni tradisional tidak hanya bertahan, tetapi berkembang secara profesional dan diakui formal, menjadikan sertifikasi sebagai pijakan awal menuju masa depan seni yang lebih berdaya.ADV

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA