Kutai Timur – Kecamatan Sangatta Utara kembali menjadi sorotan setelah mencatat peningkatan tertinggi keluarga berisiko stunting di kutim. lonjakan ini bukan hanya menunjukan tantangan kesehatan masyarakat, tetapi juga mengungkap dampak besar dari mobilitas penduduk yang tinggi di kawasan tersebut.
Kepala Dinas Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutai Timur, Achmad Junaidi, mengungkapkan bahwa dua faktor dominan penyebab kenaikan jumlah Keluarga Berisiko Stunting.
“Kenaikan jumlah keluarga berisiko stunting di Sangatta Utara disebabkan padatnya penduduk dan tingginya mobilitas,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa arus pendatang yang terus berdatangan untuk bekerja di sektor swasta menjadi penyumbang signifikan dalam pertumbuhan jumlah Keluarga Berisiko. Banyak dari mereka datang tanpa persiapan hunian yang memadai.
“Banyak pendatang yang bekerja di sektor swasta datang tanpa tempat tinggal tetap. Mereka tinggal di rumah kontrakan atau kos dengan kondisi tidak layak,” jelasnya.
Ketika para pendatang telah menetap lebih dari enam bulan, secara aturan mereka harus masuk dalam pendataan resmi pemerintah daerah. Hal ini membuat jumlah keluarga berisiko bertambah secara otomatis.
“Saat sudah berdomisili lebih dari enam bulan, mereka wajib didata dan mendapatkan pelayanan. Jadi meskipun bukan warga asli, mereka tetap masuk dalam data keluarga berisiko stunting,” tegas Junaidi.
Berbagai program lintas sektor seperti kesehatan, infrastruktur, sanitasi, serta pelayanan sosial akan disesuaikan dengan kebutuhan riil berdasarkan sebaran keluarga berisiko di lapangan.
Upaya penanganan stunting di Sangatta Utara kini menjadi prioritas, mengingat kompleksitas persoalan yang dipicu mobilitas penduduk dan keterbatasan kondisi hunian masyarakat. Pemerintah berharap intervensi terpadu dapat memperbaiki kondisi keluarga rentan dan menekan angka risiko stunting di wilayah tersebut.(SH/ADV)
![]()

Tidak ada komentar