Kutai Timur Hadapi Turbulensi Anggaran, Infrastruktur Tetap Jadi Prioritas

waktu baca 2 menit
Selasa, 18 Nov 2025 07:30 0 45 Redaksi

Kutai Timur – Membangun daerah tidak selalu berjalan mulus. Kutai Timur harus menghadapi kenyataan pahit ketika aliran dana dari pusat terhambat, memicu turbulensi anggaran yang cukup signifikan di penghujung 2024. Meski demikian, semangat untuk menuntaskan pembangunan tetap dikedepankan.

Situasi ini memberi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah. Dengan kebutuhan pembiayaan infrastruktur yang besar, terhambatnya transfer dana memaksa berbagai program tertunda. Namun, pemerintah bertekad agar kendala ini tidak mematahkan komitmen untuk membangun Kutai Timur.

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman mengungkapkan bahwa penurunan pendapatan daerah akibat transfer pusat berdampak langsung pada progres pekerjaan. Kondisi tersebut mengakibatkan sejumlah tagihan proyek tidak bisa diselesaikan tepat waktu.

“Kita menyadari bahwa untuk mewujudkan program-program tersebut sangat membutuhkan pembiayaan daerah yang cukup besar, khususnya di dalam pembangunan infrastruktur. Namun, nilai pihak potensi pendapatan daerah yang bersumber dari transfer pusat ke daerah mengalami penurunan yang cukup signifikan. ya,” ungkap Ardiansyah.

Ia menjelaskan, di akhir 2024 pemerintah daerah terpaksa menanggung sisa pembayaran yang cukup besar. Dari total Rp2,2 triliun dana transfer yang tidak diterima, sebesar Rp1,7 triliun harus dibawa ke tahun berikutnya.

“Nah, ini sebagai informasi bahwa di dalam tahun 2024 kemarin di akhir tahun kita mengalami turbulensi pendapatan daerah karena ada dana 2,2 triliun yang tidak bisa ditransfer sehingga dari dana 2,2 triliun itu mengakibatkan ada 1,7 triliun progres pekerjaan yang belum sempat kita bayar,” jelasnya.

Ardiansyah menambahkan, upaya penyelesaian terus dilakukan sepanjang 2025. Hingga September, beban pembayaran tersebut hampir seluruhnya berhasil ditutup, menyisakan hanya sebagian kecil.

“Sehingga di dalam perjalanan waktu 2025 progres itu harus kita selesaikan dan mudah-mudahan informasi terakhir sampai dengan bulan September ini itu dari Rp1,7 triliun hanya tinggal Rp60 miliar. Mudah-mudahan di perubahan ini sudah harus terbayar semua,” ucapnya.

Meski diterpa turbulensi anggaran, Ardiansyah menegaskan bahwa situasi ini tidak boleh melemahkan tekad pembangunan. Infrastruktur sebagai fondasi utama tetap menjadi prioritas yang harus diwujudkan demi kemajuan daerah.

“Bapak Ibu sekalian, kita berharap turbulensi ini tidak menyulutkan nyali kita untuk membangun Kutai Timur,” tegasnya. (SH/ADV).

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA