Tangkal Konten Negatif, KPID Kaltim Perkuat Literasi Digital untuk Generasi Muda

waktu baca 2 menit
Sabtu, 14 Jun 2025 15:19 0 93 Redaksi

Perwakilan KPID Kalimantan Timur aktif menyuarakan pentingnya pemahaman media bagi anak dan remaja dalam forum edukatif di Samarinda.

Noisenews.co, Samarinda – Di tengah meningkatnya ancaman konten pornografi digital yang kian mudah diakses generasi muda, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kalimantan Timur menegaskan pentingnya literasi media sebagai langkah preventif. Penegasan ini disampaikan dalam kegiatan Gugus Tugas Pencegahan Pornografi yang berlangsung di Samarinda, Jumat (13/6/25).

Kehadiran KPID Kaltim dalam forum tersebut tidak hanya bersifat simbolis. Melalui keterlibatan aktif, lembaga ini mengajak masyarakat, terutama pendidik dan orang tua, untuk lebih peka terhadap paparan konten negatif yang kini menyusup lewat berbagai kanal digital.

“Anak-anak kita saat ini adalah digital native, namun bukan berarti mereka punya ketahanan otomatis terhadap konten yang tidak layak,” ungkap Adji Novita Wida Vantina, anggota KPID Kaltim yang menjadi narasumber dalam kegiatan itu.

Ia menjelaskan, tugas KPID bukan semata-mata melakukan pengawasan terhadap siaran media, tetapi juga membangun kesadaran kritis di tengah masyarakat. Literasi digital, menurutnya, adalah tameng awal yang sangat efektif.

Adji menyoroti bahwa konten bermuatan pornografi kini tidak hanya menyusup lewat televisi atau radio, tetapi juga marak di media sosial, aplikasi chatting, hingga platform video singkat yang digandrungi remaja. Oleh karena itu, kata dia, edukasi harus menjangkau seluruh lini, termasuk sekolah dan komunitas lokal.

“Kami rutin turun ke sekolah, mengadakan diskusi, pelatihan, dan dialog interaktif. Upaya ini harus kolaboratif, bukan hanya tugas satu institusi,” tambahnya.

Antusiasme peserta terhadap pendekatan literasi yang diusung KPID cukup tinggi. Mereka menilai pendekatan edukatif lebih efektif dan berkelanjutan dalam mencegah dampak buruk konten pornografi terhadap psikologi anak dan remaja.

“Bila masyarakat dibekali dengan pengetahuan, mereka bisa menjadi filter pertama terhadap konten berbahaya. Ini bukan hanya tentang anak-anak, tapi juga tentang kualitas masa depan bangsa,” pungkasnya.(Cep/ADV/DISKOMINFOKALTIM). (*)


Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA