Sangatta – Kondisi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Kalimantan Timur khususnya Kutai Timur masih menjadi sorotan utama, khususnya bagi pengusaha yang terus menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan operasional mereka. Seorang pengusaha yang juga merupakan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutai Timur (Kutim), Sobirin Bagus. mengungkapkan ketidak puasannya terhadap situasi saat ini.
“Sebagai salah satu pengusaha tentunya saya butuh BBM, dulu katanya 2023 akan normal, namun sampai saat ini tahun 2024 belum normal, masih antri BBM,” ungkapnya.
Pengusaha tersebut juga menyoroti paradoks bahwa Kalimantan dikenal sebagai kota raja minyak, namun kondisi terkini menunjukkan antrian BBM yang terus memanjang. “Katanya Kalimantan merupakan kota raja minyak, namun terjadi antrian BBM yang sangat panjang,” pungkasnya.
Dia juga menyampaikan bahwa meskipun ada peralihan kebijakan terkait jenis BBM, masyarakat belum sepenuhnya merasa puas. “Dengan peralihan kebijakan yang merubah jenis BBM membuat masyarakat tidak complain, namun pemerintah juga harus memperhatikan masyarakat yang kesulitan mendapatkan BBM,” katanya.
Lebih lanjut, dirinya juga menegaskan harapannya agar pemerintah dapat menemukan solusi yang lebih efektif. “Ya kalau bisa jangan antri BBM lah, biar mahal tidak apa-apa asal jangan antri,” tegasnya.
Kondisi ini memicu keprihatinan di kalangan pengusaha dan masyarakat umum di Kalimantan, yang menuntut respons yang cepat dan tepat dari pemerintah untuk menangani kelangkaan BBM yang berkepanjangan.
![]()

Tidak ada komentar