Produksi Padi Naik, Kepastian Serapan Jadi Kunci Petani Kutim Tetap Menanam

waktu baca 2 menit
Selasa, 29 Sep 2026 11:39 0 15 Redaksi

Kutai Timur – Peningkatan produksi padi di Kutai Timur belum sepenuhnya diimbangi kesiapan penyerapan hasil panen, kondisi yang berisiko membuat petani kehilangan kepastian pasar ketika produksi terus meningkat.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kutai Timur mengatakan persoalan serapan menjadi penting karena petani membutuhkan kepastian bahwa hasil yang diproduksi dapat dijual setelah masa panen, terutama ketika produktivitas mulai didorong lebih tinggi.

“Kalau hasil panennya tidak terserap, petaninya bisa berhenti menanam, takutnya seperti itu,” ujarnya pada Rapat Koordinasi Pelaksanaan Gugus Tugas Reforma Agraria Kabupaten Kutai Timur di Gedung Serba Guna Bukit Pelangi, Selasa (29/9/2026).

Menurutnya, peningkatan produksi tidak cukup hanya dilakukan melalui perluasan maupun peningkatan produktivitas lahan, tetapi harus disertai kesiapan pembeli agar hasil panen tidak menjadi beban baru bagi petani.

“Kemarin masalah di Kobun bisa diselesaikan karena Bulog, Perpadi dan perusahaan-perusahaan yang ada di wilayah tersebut ikut menyerap hasil panen,” katanya.

Namun, pola tersebut belum dapat menjadi jaminan jangka panjang karena Perpadi tidak bisa terus dijadikan penyangga utama ketika produksi padi Kutai Timur semakin besar, terutama apabila kebutuhan serapan dari daerah lain kembali berubah.

Perpadi sebelumnya bersedia mengambil gabah dari Kobun karena Kutai Kartanegara mengalami puso akibat kekeringan sehingga membutuhkan pasokan dari daerah lain, sementara pertanaman padi di Kutai Timur tetap menghasilkan tanpa laporan puso.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyerapan sementara dapat terbantu oleh kebutuhan pasar, tetapi peningkatan produksi ke depan membutuhkan sistem serapan yang lebih stabil agar petani tidak bergantung pada situasi daerah lain.

“Ke depan, ketika program peningkatan produksi berjalan dan hasil panen semakin besar, Bulog harus memiliki kemampuan menyerap sesuai kebutuhan,” tuturnya.

Dinas Ketahanan Pangan berharap pembangunan gudang Bulog segera terealisasi sehingga kapasitas penyimpanan dan penyerapan dapat mengikuti pertumbuhan produksi, sekaligus mencegah persoalan pemasaran kembali muncul saat petani memasuki masa panen.

“Kalau produksi sudah meningkat tetapi sarana penyimpanan dan penyerapan tidak siap, peningkatan produktivitas justru berpotensi menimbulkan persoalan baru di tingkat petani,” jelasnya.

Karena itu, penguatan sektor hilir dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi padi Kutai Timur, sebab keberhasilan peningkatan produksi pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan gabah tetapi juga kepastian hasil tersebut terserap pasar. (SH/ADV)

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA