Mandiri Sampah Sangatta Selatan Disiapkan, Konsolidasi Warga Jadi Tantangan Utama

waktu baca 2 menit
Selasa, 15 Sep 2026 14:17 0 47 Redaksi

Kutai Timur – Persoalan pengelolaan sampah di Kecamatan Sangatta Selatan diarahkan untuk ditangani dari lingkungan rumah tangga melalui program mandiri sampah yang kini masih dalam tahap persiapan.

Program tersebut tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan sampah di tingkat rumah, tetapi juga penertiban jam pembuangan agar pengelolaan sampah memiliki aturan yang dapat dipahami dan dijalankan masyarakat.

Pemerintah kecamatan telah membahas rencana tersebut bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH), namun peluncuran program belum dilakukan karena masih membutuhkan dukungan sarana dan prasarana serta kesamaan pemahaman di tingkat masyarakat.

Camat Sangatta Selatan Dewi Dohi mengatakan pihaknya memilih melakukan konsolidasi terlebih dahulu agar program tidak berhenti sebagai kebijakan tanpa pelaksanaan yang berjalan di lapangan, di Kantor Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur.

“Mandiri sampah itu terkait dengan pengelolaan sampah secara rumah tangga, kemudian terkait penertiban jam buang,” kata Dewi.

Menurut dia, pembahasan mengenai program tersebut sebelumnya telah dilakukan bersama Kepala Dinas Lingkungan Hidup, tetapi pelaksanaan tetap membutuhkan dukungan sarana dan prasarana sebagai penunjang.

“Kemarin itu sudah sempat berdiskusi dengan Kadis LH, tetap harus di-support sama sarana prasarana penunjangnya,” ujarnya.

Program tersebut hingga kini belum diluncurkan karena pemerintah kecamatan masih menyusun konsolidasi dan menyamakan persepsi mulai dari tingkat rukun tetangga hingga kecamatan.

“Tapi kami belum launching, kami mencoba konsolidasi dulu, penyamaan persepsi dulu dari tingkat RT sampai ke tingkat kecamatan,” tuturnya.

Dewi menilai kesamaan pemahaman menjadi bagian penting karena pelaksanaan program pada akhirnya sangat bergantung pada masyarakat dan RT sebagai pihak yang berhadapan langsung dengan persoalan sampah di lingkungan masing-masing.

“Kita bisa buat program, tetapi pelaksanaannya ujung tombaknya ada masyarakat dan RT,” jelasnya.

Menurut dia, peluncuran tanpa kesiapan dan kesamaan persepsi berisiko membuat program tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan, sehingga tahapan persiapan dinilai perlu diselesaikan lebih dahulu.

“Kalau persepsinya tidak sama dulu, khawatirnya kita launching ini tidak berjalan,” tandasnya.

Dengan pendekatan tersebut, program mandiri sampah diarahkan bukan sekadar menjadi program pemerintah kecamatan, tetapi menjadi kegiatan yang melibatkan masyarakat sejak dari rumah dan membutuhkan keterlibatan RT sebagai penggerak di lingkungan masing-masing. (SH/ADV)

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA