Edukasi HIV Kutim Diperluas, Tujuh Penyuluh Sasar Sekolah Cegah Risiko Sejak Dini

waktu baca 2 menit
Rabu, 7 Okt 2026 11:14 0 27 Redaksi

Kutai Timur – Upaya menekan penularan HIV di Kabupaten Kutai Timur diperluas ke lingkungan sekolah karena pencegahan dinilai perlu dimulai sejak usia remaja, bukan hanya setelah seseorang terdeteksi terinfeksi.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Dinkes Kutim), Sumarno mengatakan, pihaknya menyiapkan tujuh penyuluh profesional yang terdiri dari tenaga kesehatan, perawat, bidan dan psikolog untuk memberikan edukasi mengenai HIV.

Ketujuh penyuluh tersebut diturunkan ke sekolah-sekolah mulai jenjang SMP, SMA hingga SMK dengan materi yang diarahkan pada pemahaman mengenai penularan dan risiko perilaku yang dapat menyebabkan infeksi.

“Di Dinas Kesehatan kami mengambil tujuh penyuluh HIV yang berasal dari tenaga profesional, seperti tenaga kesehatan, perawat, bidan dan psikolog,” ujar Sumarno di Kantor Dinkes Kutim, Rabu (7/10/2026).

Menurutnya, edukasi sejak sekolah menjadi perhatian karena anak-anak berada pada fase ingin mencoba berbagai hal sehingga pengetahuan mengenai risiko HIV perlu diberikan sebelum mereka terpapar perilaku berisiko.

“Ketujuh penyuluh tersebut kami turunkan ke seluruh sekolah yang ada di Kutai Timur untuk memberikan edukasi dan penyuluhan mengenai HIV,” jelasnya.

Materi pencegahan juga mencakup pemahaman mengenai risiko penularan melalui penggunaan jarum suntik dan perilaku seksual berisiko sehingga siswa memiliki pengetahuan yang benar dan tidak hanya mengenal HIV setelah terjadi infeksi.

Selain kegiatan di sekolah, program HIV bersama penanganan TBC, malaria, hipertensi dan diabetes melitus tetap dijalankan melalui Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat.

“Setiap pemegang program di Puskesmas memiliki kewajiban melaporkan perkembangan kasus melalui sistem aplikasi yang terhubung dengan Kementerian Kesehatan,” tuturnya.

Sistem tersebut memungkinkan perkembangan pasien tetap dipantau ketika terjadi perpindahan daerah sehingga pengobatan dan penanganan dapat dilanjutkan tanpa terputus.

“Pencegahan tidak cukup hanya dilakukan setelah seseorang terinfeksi, tetapi harus dimulai dengan memberikan pengetahuan kepada anak-anak agar mereka dapat menghindari perilaku yang berisiko,” tandasnya. (SH/ADV)

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA