DPRD Samarinda Kaji Strategi untuk Optimalkan Aktivitas Pasar Pagi

waktu baca 4 menit
Selasa, 25 Agu 2026 04:38 0 24 Redaksi

Pasar Pagi. (Ist)

Noisenews.co, Samarinda – Aktivitas perdagangan di gedung baru Pasar Pagi Samarinda yang dinilai belum maksimal mulai mendapat perhatian DPRD Kota Samarinda. Kendati telah memiliki bangunan yang lebih modern, kegiatan ekonomi di salah satu pusat perdagangan tersebut masih belum menunjukkan perkembangan yang optimal, termasuk masih terdapatnya kios yang belum terisi.

Kondisi tersebut mendorong DPRD Samarinda untuk mempertimbangkan berbagai upaya guna kembali meningkatkan aktivitas di Pasar Pagi. Salah satunya melalui sejumlah alternatif strategi sekaligus melakukan evaluasi terhadap konsep perdagangan yang saat ini diterapkan.

Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, mengatakan evaluasi perlu dilakukan untuk mengidentifikasi faktor yang menyebabkan kegiatan perdagangan belum tumbuh sesuai ekspektasi. Pembahasan internal pun telah dilakukan guna memetakan berbagai kendala sekaligus merumuskan pilihan solusi yang dapat diterapkan.

“Sekarang kami menginventarisasi persoalan yang ada. Kita tidak perlu terus berbicara soal yang sudah berlalu, tetapi fokus mencari jalan keluar ke depan,” ujar Iswandi, pada Selasa (25/8/26).

Menurutnya, DPRD bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait perlu memfokuskan perhatian pada situasi Pasar Pagi saat ini, khususnya menyangkut minimnya aktivitas perdagangan dan tingkat keterisian kios yang belum maksimal.

Ia menilai terdapat kesenjangan yang cukup terlihat antara kondisi fisik bangunan yang sudah modern dengan perannya sebagai kawasan perdagangan yang seharusnya mampu menggerakkan aktivitas ekonomi.

“Kalau dari sisi estetika, Pasar Pagi memang sudah bagus. Tetapi yang menjadi perhatian adalah fungsi ekonominya, karena sampai sekarang belum berjalan sebagaimana yang diharapkan,” tegasnya.

Padahal, pembangunan kembali Pasar Pagi sejak awal ditujukan untuk meningkatkan aktivitas perdagangan sekaligus menjadikannya sebagai salah satu pusat penggerak perekonomian masyarakat di Kota Samarinda.

Untuk mencari solusi, DPRD berencana mendorong pelaksanaan focus group discussion (FGD). Kegiatan tersebut dapat melibatkan berbagai pihak, mulai dari akademisi, komunitas, praktisi, OPD terkait hingga pihak lainnya yang mempunyai gagasan mengenai pengembangan kawasan perdagangan.

Iswandi juga berpandangan bahwa konsep pasar tradisional yang ditempatkan dalam bangunan modern perlu ditinjau kembali. Menurutnya, konsep tersebut tidak seharusnya dipertahankan apabila dalam praktiknya tidak sesuai dengan karakter bangunan maupun pola masyarakat Samarinda ketika melakukan aktivitas belanja.

“Kita jangan terus memaksakan konsep pasar tradisional yang dimodernisasi kalau ternyata penerapannya tidak sesuai. Kalau dibiarkan terlalu lama, pedagang yang nantinya bisa terkena dampaknya,” katanya.

Meski demikian, rencana rebranding Pasar Pagi tidak akan dilakukan secara tergesa-gesa. DPRD ingin setiap perubahan memiliki dasar kajian yang kuat, termasuk mempertimbangkan desain bangunan, kebiasaan belanja masyarakat, karakter perdagangan, hingga potensi ekonomi yang dapat dikembangkan.

“Kita juga harus hati-hati. Jangan sampai niat melakukan rebranding atau mengubah konsep justru menimbulkan persoalan baru,” ujarnya.

Sejumlah pilihan mulai dipertimbangkan, salah satunya melalui penataan kembali fungsi lantai maupun pembagian zona perdagangan. Beberapa area dapat diarahkan menjadi pusat penjualan produk dengan segmen tertentu sehingga mampu menciptakan daya tarik baru bagi masyarakat untuk berkunjung.

Namun demikian, Iswandi menegaskan bahwa gagasan tersebut masih memerlukan pembahasan dan kajian yang lebih komprehensif sebelum dapat direalisasikan.

Selain persoalan konsep, ia turut menyoroti desain gedung yang dinilai belum sepenuhnya menyesuaikan dengan kebiasaan masyarakat saat berbelanja di pasar tradisional.

Menurutnya, masyarakat pada umumnya menginginkan pola belanja yang praktis dengan akses yang mudah untuk menjangkau pedagang tanpa harus berjalan terlalu jauh ke bagian dalam bangunan. Pola tersebut perlu menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam menentukan strategi pengelolaan Pasar Pagi ke depan.

“Kalau melihat pola bangunan yang ada sekarang, memang perlu dievaluasi apakah sudah benar-benar sesuai dengan kebiasaan masyarakat berbelanja,” tuturnya.

Ia juga mengakui bahwa kondisi ekonomi masyarakat yang mengalami pelemahan turut memberikan pengaruh terhadap aktivitas perdagangan. Namun, kondisi tersebut tidak dapat dijadikan satu-satunya faktor yang menjelaskan belum optimalnya pergerakan ekonomi di Pasar Pagi.

“Bangunannya sudah dibangun dengan anggaran besar, tentu harapannya aktivitas ekonomi juga bergerak. Memang kondisi ekonomi saat ini ikut berpengaruh, tetapi itu jangan sampai menjadi satu-satunya alasan,” pungkasnya.

Karena itu, DPRD menilai evaluasi secara menyeluruh perlu dilakukan sebelum pemerintah menentukan kebijakan berikutnya. DPRD berharap konsep pengelolaan yang dipilih nantinya mampu meningkatkan kunjungan masyarakat, mendorong keterisian kios, serta memastikan para pedagang mendapatkan manfaat dari keberadaan gedung baru Pasar Pagi. (Rad/ADV/DPRD Samarinda)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA