Menjadi Trend Anak Muda, Dispora Kaltim Dorong Squash Masuk ke Sekolah

waktu baca 3 menit
Senin, 23 Jun 2025 15:38 0 60 Redaksi

Kepala Bidang Pembinaan Prestasi dan Olahraga Dispora Kaltim, Rasman Rading. (Ist)

Noisenews.co, Samarinda – Di tengah dominasi olahraga populer seperti sepak bola dan bola basket, cabang olahraga squash mulai mencari tempat di hati generasi muda Kalimantan Timur (Kaltim). Upaya ini tak lepas dari dorongan kuat Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim, yang kini menargetkan pelajar sebagai sasaran utama pengenalan olahraga raket cepat ini.

Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Bidang Pembinaan Prestasi dan Olahraga Dispora Kaltim, Rasman Rading, dalam pembukaan Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Junior Squash yang berlangsung pada 12–15 Juni 2025 di Samarinda.

“Squash masih belum begitu dikenal, khususnya di kalangan pelajar. Banyak yang bahkan belum pernah mendengar namanya,” kata Rasman.

Ia menyadari bahwa salah satu penyebab lambatnya pertumbuhan squash di Kaltim adalah minimnya sosialisasi. Karena itu, Rasman mendorong pengurus cabang olahraga squash untuk lebih aktif menjangkau sekolah-sekolah.

“Kalau tidak dikenalkan, bagaimana siswa bisa tertarik? Kita perlu masuk ke sekolah, buat simulasi, adakan pertandingan ekshibisi. Bangun rasa penasaran mereka,” ujarnya.

Di balik harapan besar itu, Rasman tak menampik adanya tantangan lain terutama terkait ketersediaan infrastruktur. Saat ini, lapangan squash yang memadai baru tersedia di Samarinda, Balikpapan, dan Penajam Paser Utara (PPU). Sementara daerah lain seperti Paser masih dalam tahap pembangunan, dan kota seperti Bontang dan Berau baru memasuki tahap perencanaan fasilitas.

Namun ia menilai, keterbatasan sarana bukan alasan untuk berhenti. Justru menurutnya, karena squash belum terlalu umum, pengenalannya harus dimulai dari sekarang agar tak tertinggal dari cabor lain.

“Squash ini juga dipertandingkan di PON. Artinya, jika kita serius sejak awal, kita bisa cetak atlet-atlet andalan yang mampu bersaing di tingkat nasional,” ujarnya memberi semangat.

Rasman juga menekankan pentingnya sinergi antara pengurus cabor, sekolah, dan pemerintah daerah. Menurutnya, tanpa kolaborasi lintas sektor, pembinaan atlet muda tidak akan berjalan optimal.

“Kalau pengurus cabor bekerja sendiri, hasilnya tidak akan maksimal. Harus ada keterlibatan sekolah dan dukungan dari pemerintah daerah agar gerakan ini masif,” ujarnya.

Kejuaraan Junior Squash tingkat provinsi kali ini bukan hanya sekadar kompetisi, tetapi juga menjadi panggung untuk memunculkan bibit-bibit baru yang selama ini tersembunyi. Di sela-sela pertandingan, para pelatih bahkan tampak aktif memberikan edukasi seputar teknik dasar squash kepada penonton muda yang penasaran.

Dengan optimisme yang terus dibangun dan langkah konkret yang mulai dijalankan, squash tampaknya mulai mendapat tempat di arena olahraga Kaltim. Tak hanya sebagai cabang yang kompetitif, tetapi juga sebagai alternatif baru bagi generasi muda yang ingin menyalurkan energi dan potensinya.

“Harapan saya, lima tahun ke depan squash bukan lagi olahraga asing. Tapi jadi pilihan utama bagi pelajar yang ingin berprestasi,” pungkas Rasman. (Rad/ADV/Dispora Kaltim)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA