Sangatta – Berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), terdapat 13 Desa di Kutim yang masuk kategori wilayah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T).
Soal data itu, Agusriansyah menilai banyak upaya telah dilakukan oleh Disdikbud Kutim untuk melakukan pemerataan sektor pendidikan, baik segi sarana dan prasarana maupun kemajuan teknologi. Ia mengatakan pada tahun 2023, banyak pembangunan sarana prasarana pendidikan yang dilakukan di Kutim, seperti ruang belajar, UKS, dan Lab.
“Saya melihat Dinas Pendidikan kn terus melakukan mobilisasi dalam rangka untuk melakukan identifikasi database terhadap kebutuhan – kebutuhan sarana prasarana yang memang harus di dorong untuk dibangun dan alhamdulillah tahun kemarin saja begitu banyak ya. Misalnya ruang belajar dan ruangan lainnya misalnya yang terkait soal UKS, Laboratorium dan sebagainya terus berproses,” ungkap Agusriasnyah Ridwan yang juga Politisi senior PKS.
Legislator Kutai Timur itu juga meminta Dinas terkait untuk mengupdate database kebutuhan sarana dan prasarana secara berkala guna memudahkan pengajuan anggaran dengan tepat.
“Makanya sekarang ini alhamdulillah kita sudah mendorong juga Dinas terkait agar supaya datanya tidak diambil pada saat mau diajukan. Tapi memang database nya sudah ada dan itu sudah lengkap,” ungkapnya dihadapan awak media.
Drinya juga berharap dengan upaya yang dilakukan pemerintah bisa mewujudkan pemerataan pendidikan di Kutai Timur.
“harapan kami pemerataan pendidikan segera teralisasi, khususnya di daerah Busang, Long Mesangat, Sandaran dan Karangan,” harapnya. Selain peningkatan Sapras, ia juga mengatakan bahwa program beasiswa menjadi salah satu upaya pemerintah dalam pemerataan Pendidikan yang patut di aspresiasi.
![]()

Tidak ada komentar