Empat Indikator 4T Tandai Keluarga Berisiko Stunting, Verifikasi Jadi Tantangan Kutim

waktu baca 2 menit
Senin, 12 Okt 2026 16:06 0 58 Redaksi

Kutai Timur – Penanganan stunting di Kabupaten Kutai Timur diawali dengan mengenali keluarga yang memiliki faktor risiko melalui empat indikator yang dikenal sebagai 4T, meski status risiko tersebut belum otomatis menunjukkan anak mengalami stunting.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Kutai Timur, Yuriansyah mengatakan, petugas di lapangan menggunakan indikator 4T untuk mengidentifikasi keluarga yang masuk kategori berisiko sehingga dapat ditindaklanjuti melalui pemantauan.

“Untuk keluarga berisiko stunting ada beberapa kriteria yang biasa disebut 4T,” ujar Yuriansyah di Kantor DPPKB Kutai Timur, Senin (12/10/2026).

Empat indikator tersebut mencakup menikah terlalu muda, melahirkan terlalu dekat, melahirkan pada usia terlalu tua dan memiliki terlalu banyak anak sehingga temuan indikator menjadi dasar bagi petugas untuk memasukkan keluarga dalam kategori berisiko.

“Empat indikator tersebut adalah menikah terlalu muda, melahirkan terlalu dekat, melahirkan pada usia terlalu tua dan terlalu banyak anak,” jelasnya.

Namun, kategori keluarga berisiko tidak dapat langsung disamakan dengan kondisi anak yang mengalami stunting karena penentuan status stunting berada di luar kewenangan DPPKB dan membutuhkan penilaian dari bidang kesehatan.

“Jadi, ketika petugas kami di lapangan menemukan indikasi tersebut, keluarga itu masuk dalam kategori berisiko stunting,” tuturnya.

DPPKB kemudian berperan menangani keluarga berdasarkan faktor risiko yang ditemukan, sedangkan pemeriksaan kondisi anak dilakukan melalui koordinasi dengan tenaga kesehatan untuk memastikan apakah anak masuk kategori stunting atau tidak.

“Namun, keluarga yang berisiko stunting belum tentu anaknya mengalami stunting karena penentuan stunting bukan menjadi ranah DPPKB,” katanya.

Pemisahan peran tersebut membuat verifikasi dan koordinasi antarinstansi menjadi penting agar keluarga yang teridentifikasi berisiko tidak berhenti hanya pada pendataan, tetapi memperoleh pemantauan sesuai kondisi masing-masing.

“Kami hanya menangani keluarga yang berisiko, kemudian berkoordinasi dengan teman-teman dari kesehatan untuk memantau apakah anak tersebut termasuk kategori stunting atau tidak,” tandasnya. (SH/ADV)

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA