Kutai Timur – Ketersediaan pakan menjadi salah satu titik rawan dalam menjaga keberlanjutan usaha peternakan di Kutai Timur, terutama ketika kemarau membuat sumber hijauan semakin terbatas dan harga pakan berpotensi meningkat.
Kondisi tersebut membuat peternak sapi harus mengandalkan sumber pakan yang tersedia di sekitar mereka, termasuk rumput liar, sementara keterbatasan hijauan saat kemarau diantisipasi dengan pengolahan pakan melalui metode fermentasi.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang (Kabid) Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Peternakan (DTPHP) Kabupaten Kutai Timur, Cut Meutia, mengatakan strategi tersebut menjadi cara peternak mempertahankan ketersediaan pakan ketika kondisi lapangan tidak mendukung.
“Kalau pakan alternatif mereka mengambil langsung dari rumput, rumput liar atau kalau misalnya pas lagi musim sekarang ini musim kemarau, mereka melakukan fermentasi,” kata Cut Meutia di ruang kerjanya.
Menurutnya, fermentasi memberikan ruang bagi peternak untuk menyimpan persediaan pakan lebih lama sehingga kebutuhan ternak tetap dapat dipenuhi ketika rumput segar sulit diperoleh, terutama selama periode kemarau.
“Kalau fermentasi itu bisa untuk berhari-hari apabila rumput yang dibutuhkan tidak ada, jadi mereka bisa memanfaatkan rumput yang ada di situ,” ujarnya.
Meski pakan sapi masih relatif terkendali, kondisi berbeda terlihat pada komoditas unggas yang lebih sensitif terhadap perubahan harga bahan pakan, sehingga kenaikan biaya pakan dapat ikut menekan harga jual maupun biaya pemeliharaan peternak.
“Kalau harga pakan sapi masih bisa dikontrol, kecuali kalau ayam biasanya lebih mahal,” jelasnya.
Cut Meutia menambahkan, harga ayam masih relatif stabil, tetapi sebelumnya sempat mengalami kenaikan ketika kebutuhan pakan meningkat, yang menunjukkan bahwa perubahan biaya produksi tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai dalam menjaga stabilitas usaha peternakan.
“Kalau untuk ayam masih stabil, kecuali kadang sempat kemarin naik harga ayam karena kebutuhan pakannya juga agak naik,” tuturnya.
Kondisi tersebut menunjukkan penguatan peternakan tidak cukup hanya melalui peningkatan populasi ternak, tetapi juga perlu dibarengi strategi menjamin ketersediaan pakan agar peternak tidak terlalu rentan terhadap musim dan gejolak biaya produksi. (SH/ADV)
![]()

Tidak ada komentar