Bantuan Ternak Kutim Dipangkas, 9.000 Ayam Petelur Masih Tunggu Kepastian Anggaran Perubahan

waktu baca 2 menit
Kamis, 8 Okt 2026 11:47 0 10 Redaksi

Kutai Timur – Program bantuan ternak untuk kelompok peternak di Kabupaten Kutai Timur menghadapi keterbatasan anggaran pada 2026, sehingga jumlah bantuan ternak besar yang diberikan pemerintah turun dibandingkan kebutuhan pada tahun-tahun sebelumnya.

Pengurangan anggaran membuat bantuan ternak besar yang sebelumnya dapat mencapai lebih dari 100 ekor kini hanya berada pada kisaran 75 sampai 80 ekor per kelompok, sementara rencana bantuan ayam petelur sebanyak 9.000 ekor masih bergantung pada kepastian anggaran perubahan.

Plt Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Peternakan (DTPHP) Kabupaten Kutai Timur Cut Meutia mengatakan bantuan kepada kelompok peternak tetap diupayakan setiap tahun, tetapi jumlahnya harus disesuaikan dengan kemampuan anggaran yang tersedia.

“Setiap tahun ada bantuan ternak kepada kelompok peternak, cuman jumlahnya yang dibatasi,” kata Cut Meutia di ruang kerjanya.

Menurut dia, kondisi anggaran tahun ini membuat jumlah ternak besar yang dapat diberikan kepada kelompok mengalami pengurangan, padahal pada kondisi normal bantuan tersebut dapat diberikan dalam jumlah lebih banyak.

“Karena tahun ini ada pengurangan anggaran, yang harusnya mungkin di atas 100 ekor, untuk tahun ini di bawah itu, 75 sampai dengan 80 ekor untuk hewan ternak besar,” ujarnya.

Sementara untuk sektor unggas, DTPHP berencana memasukkan bantuan ayam petelur sebanyak 9.000 ekor dalam perubahan APBD, namun realisasinya belum dapat dipastikan karena masih bergantung pada pembahasan dan ketersediaan anggaran.

“Untuk unggas ada juga rencananya di perubahan itu ayam petelur sebanyak 9.000,” sebutnya.

Ketidakpastian tersebut menjadi perhatian karena bantuan ternak tidak hanya berkaitan dengan jumlah penerima, tetapi juga kesiapan sarana pendukung agar ternak yang disalurkan dapat langsung dikembangkan oleh kelompok penerima.

“Kita enggak tahu, namanya juga bantuan, apakah nanti di perubahan bisa terealisasi atau tidak,” tuturnya.

Cut Meutia menyebut terdapat kandang ayam petelur yang telah dibangun pada 2024, tetapi hingga kini belum terisi, sehingga pemerintah berupaya mengusulkan pengadaan ayam petelur agar fasilitas yang sudah tersedia tidak terus berada dalam kondisi tanpa pemanfaatan.

“Karena ada kandang yang memang di 2024 kemarin, ada kandang-kandang untuk ayam petelur itu belum diisi sampai sekarang, maka kita berusaha untuk memasukkan ayam petelur,” jelasnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan anggaran tidak hanya berdampak pada jumlah bantuan ternak besar, tetapi juga menuntut pemerintah memastikan fasilitas yang telah dibangun dapat segera dimanfaatkan melalui dukungan ternak yang sesuai.

Jika usulan 9.000 ayam petelur terealisasi dalam perubahan APBD, bantuan tersebut diharapkan dapat mengisi kandang yang masih kosong sekaligus menggerakkan kembali program peternakan unggas kelompok penerima, meski kepastian pelaksanaannya masih menunggu keputusan anggaran perubahan. (SH/ADV)

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA