Petani Penggarap Kutim Berkurang, Mekanisasi Didorong Tarik Minat Generasi Muda

waktu baca 2 menit
Jumat, 18 Sep 2026 03:36 0 71 Redaksi

Kutai Timur – Berkurangnya petani penggarap mendorong Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Kutai Timur mempercepat mekanisasi dan transformasi teknologi pertanian, namun langkah tersebut tidak hanya ditujukan untuk menghemat tenaga kerja melainkan juga menjadi strategi menarik generasi muda masuk ke sektor pertanian.

Pelaksana Tugas Kepala DTPHP Kabupaten Kutai Timur Purno Edi, di Kantor DTPHP Kutim, mengatakan metode pertanian berbasis teknologi mulai diterapkan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menjawab semakin terbatasnya tenaga penggarap di lapangan.

Menurutnya, penggunaan teknologi seperti drone dapat mempercepat pekerjaan pada luasan lahan tertentu, meski efektivitasnya perlu dilihat berdasarkan metode yang digunakan dan kebutuhan di lapangan, sehingga transformasi teknologi tidak semata-mata menggantikan pekerjaan manual.

“Metode ini pertama tujuannya untuk efisiensi, kenapa, pertama petani penggarapnya itu menurun, berkurang, maka sama ini merangsang atau terkait dengan transformasi teknologi,” jelasnya.

Purno mengatakan transformasi teknologi diarahkan kepada generasi milenial dan generasi Z yang diharapkan dapat melihat pertanian sebagai sektor yang lebih modern, meski minat anak muda untuk terjun menjadi petani masih menjadi tantangan tersendiri.

“Transformasi teknologi itu siapa mereka, biasanya kan milenial dan gensi ini harapannya, ada enggak nih yang mau jadi petani di sini, dari lima orang ini, berat ya,” ujarnya.

Selain drone, DTPHP juga mulai menjalankan program baru yang disebut PMAS dengan perhatian pada penggunaan benih dan tenaga kerja, sehingga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dalam proses budidaya sekaligus memperkenalkan pola kerja pertanian yang lebih modern.

“Jadi dengan transformasi teknologi itu supaya merangsang dan minatnya tinggi, maka dari luasan yang ada itu menggunakan drone, kalau terkait efektif, efektif secara tenaga, supaya lebih cepat,” sebutnya.

Purno menilai mekanisasi menjadi salah satu bagian dari upaya regenerasi petani karena sektor pertanian perlu menyesuaikan cara kerja dengan perkembangan teknologi, terutama ketika jumlah tenaga penggarap terus berkurang.

Penggunaan teknologi diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada pekerjaan manual sekaligus menciptakan citra baru pertanian yang lebih efisien dan menarik bagi anak muda, meski tingkat keberhasilan transformasi tersebut tetap bergantung pada munculnya minat generasi muda untuk benar-benar masuk ke sektor pertanian. (SH/ADV)

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA