HIV Kutim Hampir 600 Kasus, Target Eliminasi 2030 Dihadang Penambahan Kasus Baru

waktu baca 2 menit
Rabu, 7 Okt 2026 09:44 0 25 Redaksi

Kutai Timur – Penanganan HIV di Kabupaten Kutai Timur masih menghadapi tantangan setelah jumlah kasus yang disebut telah mendekati 600 orang dan setiap tahun masih menunjukkan penambahan kasus baru.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Dinkes Kutim), Sumarno mengatakan, angka tersebut belum menjadi data final karena pihaknya masih perlu memastikan kembali jumlah kasus berdasarkan data terbaru.

Menurutnya, HIV memiliki karakter seperti fenomena gunung es karena kasus yang terdeteksi dinilai hanya menggambarkan sebagian dari kondisi yang sebenarnya sehingga pemeriksaan dan penemuan kasus menjadi bagian penting menuju target eliminasi pada 2030.

“Untuk jumlah kasus di Kutai Timur, kalau tidak salah sudah hampir 600 kasus, tetapi angka tersebut masih akan kami pastikan kembali berdasarkan data terbaru,” ujar Sumarno di Kantor Dinkes Kutim, Rabu (7/10/2026).

Ia menyebutkan, penambahan kasus masih terjadi dan pada tahun ini diperkirakan terdapat sekitar 50 kasus baru, meskipun angka tersebut juga belum dapat dipastikan sebelum dilakukan pemutakhiran data.

Pemeriksaan kemudian diarahkan tidak hanya kepada masyarakat umum, tetapi juga kelompok dengan faktor risiko lebih tinggi, termasuk penderita diabetes dan masyarakat di lokasi hiburan malam sebagai bagian dari upaya memperluas penemuan kasus.

“Karena itu, target kita juga eliminasi HIV pada 2030 sehingga pemeriksaan dan penemuan kasus terus dilakukan,” jelasnya.

Dalam penanganannya, Dinkes Kutim tidak bekerja sendiri karena melibatkan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) yang diketuai Wakil Bupati serta yayasan yang turut membantu pelaksanaan penanganan HIV di daerah.

Sumarno menegaskan, HIV tidak dapat disembuhkan sehingga orang yang telah terinfeksi membutuhkan pengobatan seumur hidup, kondisi yang membuat pencegahan dan penemuan kasus baru menjadi sama pentingnya dengan pengobatan.

Kasus HIV disebut paling banyak ditemukan di Sangatta karena wilayah tersebut memiliki jumlah penduduk terbesar, kemudian disusul Muara Wahau sehingga upaya pemeriksaan dan edukasi perlu menjangkau wilayah dengan potensi kasus yang lebih tinggi.

“Penanganan HIV tidak cukup hanya dengan mengobati pasien yang sudah ditemukan, tetapi juga harus memperkuat pemeriksaan, pencegahan dan edukasi agar kasus baru dapat ditekan,” tandasnya. (SH/ADV)

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA