Kutai Timur – Persoalan serapan gabah menjadi tantangan serius bagi petani Kutai Timur karena produksi panen yang mencapai hampir 3.000 ton di kawasan Kobun belum seluruhnya memiliki pembeli, sementara Bulog baru mampu menyerap sekitar 300 ton.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kutai Timur Dyah Ratnaningrum mengatakan persoalan pembeli hasil panen menjadi salah satu masalah pertama yang dihadapinya setelah masuk ke Dinas Ketahanan Pangan, terutama karena Kutai Timur masih belum mampu memenuhi kebutuhan beras secara mandiri.
“Ketika petani panen, persoalannya adalah siapa yang membeli hasil panen mereka,” kata Dyah di Kantor Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kutai Timur.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi ironi karena kebutuhan beras Kutai Timur masih banyak dipasok dari luar daerah, sementara petani lokal justru dapat menghadapi kesulitan ketika harus memasarkan gabah hasil panennya.
Dyah kemudian berkomunikasi dengan Bulog dan Perpadi Kalimantan Timur untuk mencari jalan keluar, mengingat Bulog memiliki kewajiban membeli gabah kering panen petani sesuai ketentuan yang disampaikan pemerintah.
“Sudah ada surat edaran dari Presiden bahwa Bulog wajib membeli hasil panen petani berupa gabah kering panen dengan harga Rp6.500 per kilogram di tepi sawah,” ujarnya.
Namun, kemampuan serapan Bulog masih terbatas karena persoalan gudang dan kebutuhan pengolahan gabah menjadi beras sebelum disimpan, sehingga tidak seluruh produksi petani dapat langsung ditampung.
“Pada saat saya datang ke Bulog, salah satu kendalanya adalah mereka belum mempunyai gudang,” jelasnya.
Kondisi tersebut terlihat dari panen Agustus hingga September di Kobun yang mencapai 468,5 hektare dengan produktivitas rata-rata 6,4 ton per hektare, menghasilkan sekitar 2.998,4 ton gabah kering panen dari lima desa.
Panen tersebut berasal dari Bumi Rapak, Bumi Etam, Cipta Graha, Bumi Jaya dan Kadungan Jaya, tetapi dari hampir 3.000 ton produksi gabah itu Bulog baru mampu mengambil sekitar 300 ton.
“Dari hampir 3.000 ton gabah tersebut, Bulog baru mampu mengambil sekitar 300 ton,” tuturnya.
Sekitar 600 ton lainnya diserap untuk menyuplai perusahaan-perusahaan di wilayah tersebut, sedangkan sisa produksi harus dicarikan pembeli agar hasil panen tidak menumpuk dan petani tetap memiliki kepastian pasar.
Dyah kemudian menggandeng Ketua Perpadi Kaltim Jamal untuk memperluas serapan, langkah tersebut disebut mulai memberikan hasil karena panen yang berlangsung kini sudah memiliki pembeli, bahkan produksi yang belum dipanen telah ditunggu Perpadi.
“Untuk panen sekarang sudah tidak ada masalah, bahkan hasil panen yang belum dipanen sudah ditunggu oleh Perpadi,” katanya.
Serapan Perpadi menjadi solusi jangka pendek untuk mengatasi kesenjangan pembelian, tetapi pemerintah daerah tetap berharap Bulog dapat menjadi pembeli utama agar kepastian pasar petani dapat dibangun secara lebih berkelanjutan. (SH/ADV)
![]()

Tidak ada komentar