Swasembada Pangan Kutai Timur Dikejar, Cetak Sawah dan Frekuensi Tanam Diperluas

waktu baca 2 menit
Rabu, 23 Sep 2026 11:39 0 10 Redaksi

Kutai Timur – Target swasembada pangan di Kabupaten Kutai Timur masih menghadapi kebutuhan peningkatan produksi, sehingga pemerintah daerah mendorong perluasan areal sawah sekaligus meningkatkan frekuensi tanam petani.

Strategi tersebut dilakukan melalui ekstensifikasi dan intensifikasi yang diarahkan untuk memperbesar kapasitas produksi pangan, baik dengan menambah areal tanam maupun meningkatkan hasil dari lahan yang telah dimanfaatkan.

Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Peternakan (DTPHP) Kabupaten Kutai Timur menyebut cetak sawah menjadi salah satu langkah perluasan areal padi, sementara peningkatan penggunaan benih dan produksi diarahkan untuk memperkuat hasil pertanian.

Kepala Bidang (Kabid) DTPHP Kabupaten Kutai Timur Dessy Wahyu Fitria mengatakan upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan produksi pangan sekaligus mendukung pencapaian swasembada pangan, di Kantor DTPHP Kutai Timur, Rabu (23/9/2026).

“Kita sudah melakukan ekstensifikasi maupun intensifikasi,” kata Dessy.

Menurut dia, intensifikasi juga berjalan melalui cetak sawah atau perluasan areal padi yang dilakukan di Kabupaten Kutai Timur, sehingga tambahan lahan diharapkan dapat mendukung peningkatan produksi.

“Intensifikasi ini dalam rangka saat ini kita juga sudah melakukan cetak sawah atau perluasan areal-areal padi di Kabupaten Kutai Timur,” ujarnya.

Selain memperluas lahan, DTPHP juga mendorong peningkatan produktivitas melalui penggunaan benih dan upaya peningkatan produksi pada lahan pertanian yang sudah tersedia.

“Kita juga meningkatkan penggunaan benih dan peningkatan produksi,” tuturnya.

Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah rendahnya frekuensi tanam dalam setahun, karena petani selama ini masih melakukan penanaman satu hingga dua kali dalam setahun sehingga peningkatan indeks pertanaman menjadi bagian dari strategi yang didorong.

“Kita juga mendorong peningkatan indeks pertanaman, selama ini masyarakat tanam satu kali sampai dua kali per tahun,” jelasnya.

DTPHP berharap frekuensi tersebut dapat ditingkatkan menjadi dua hingga tiga kali tanam dalam setahun, sehingga produksi pangan dapat bertambah tanpa hanya bergantung pada perluasan areal pertanian.

“Harapannya untuk mencapai swasembada kita juga harapkan petani bisa tanam antara dua sampai tiga kali per tahun,” tandasnya.

Dengan demikian, perluasan areal melalui cetak sawah dan peningkatan frekuensi tanam ditempatkan sebagai dua bagian strategi untuk mengejar produksi pangan, dengan peningkatan hasil pada lahan yang telah tersedia tetap menjadi perhatian. (SH/ADV)

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA