Kemarau Panjang Hambat Pertanian Kutim, Embung dan Irigasi Belum Cukup

waktu baca 2 menit
Jumat, 18 Sep 2026 03:36 0 116 Redaksi

Kutai Timur – Upaya menyediakan air bagi lahan pertanian di Kutai Timur melalui embung, irigasi, hingga sumber air alternatif masih menghadapi keterbatasan ketika kemarau berlangsung panjang, sebab sarana yang tersedia tetap bergantung pada keberadaan sumber air alami.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Kutai Timur Purno Edi, di Kantor DTPHP Kutim, mengatakan pembangunan sarana pengairan telah dilakukan bersama perangkat daerah terkait, tetapi kemampuan infrastruktur tidak sepenuhnya mampu mengatasi persoalan ketika hujan tidak turun.

Menurutnya, embung yang dibangun untuk menampung air dapat kehilangan fungsi ketika kemarau berkepanjangan, sementara jaringan irigasi yang telah tersedia juga tetap membutuhkan sumber air untuk dapat mengalirkan pasokan ke sawah.

“Upaya kita baik itu embung, bukan hanya di dinas kita tetapi yang dibangun oleh PUPR, kemudian kita lanjutkan ke irigasinya atau sekunder, kalau primernya di PUPR masih,” jelasnya.

Purno mengatakan pemerintah tetap berupaya memenuhi kebutuhan sarana pendukung pertanian, termasuk mempertimbangkan sumber air alternatif seperti sumur bor, namun kemampuan teknis pembangunan sarana tersebut tetap harus disesuaikan dengan kondisi sumber air di masing-masing wilayah.

“Sekarang misalkan kita bikin sumur bor, kedalaman berapa, kita mampu, tapi kita kembali lagi berbicara dengan faktor alam,” ujarnya.

Persoalan lain muncul ketika lahan pertanian tersedia tetapi sumber air berada cukup jauh, sehingga diperlukan sarana tambahan untuk membawa air menuju sawah dan membuat penanganannya tidak cukup hanya dengan membangun embung atau sumur bor.

“Kalau kita masih ada sumber air ini yang sudah kita juga lakukan, bukan hanya kita data, kita lanjut ke ini yang mana mungkin, artinya sawahnya ada, sumber airnya jauh, nah kan perlu ini lagi yang lain,” sebutnya.

DTPHP tetap melakukan pendataan terhadap lokasi sawah dan sumber air sebagai dasar menentukan kebutuhan sarana pendukung, sementara keberhasilan pemenuhan kebutuhan air tetap sangat bergantung pada kondisi alam dan panjangnya periode kemarau. (SH/ADV)

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA