Kutai Timur – Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur menargetkan skrining dan pelacakan tuberkulosis (TBC) terhadap masyarakat selesai pada Desember 2026. Kegiatan ini difokuskan pada wilayah yang telah ditemukan penderita positif untuk menelusuri kemungkinan penularan di lingkungan sekitar.
Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur, Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan skrining menjadi bagian penting dalam upaya penemuan kasus TBC. Kegiatan tersebut memiliki sasaran masing-masing sebanyak 100 orang.
“Fokus ini nanti kita harus melakukan skrining untuk penderita TBC masing-masing 100 orang,” ujar Yuwana.
Menurutnya, kegiatan penanganan tidak berhenti pada penemuan penderita positif, tetapi dilanjutkan dengan pelacakan di lokasi yang berkaitan dengan temuan kasus. Langkah ini diharapkan membantu petugas kesehatan menelusuri kondisi masyarakat di wilayah prioritas.
“Jadi ini targetnya sampai Desember sudah harus selesai untuk tracking TBC ini,” katanya.
Yuwana menegaskan, lokasi yang telah ditemukan penderita TBC positif menjadi sasaran utama pelaksanaan pelacakan. Dengan penentuan wilayah berdasarkan temuan kasus, kegiatan diharapkan berjalan lebih terarah sesuai kebutuhan di lapangan.
“Nah, tracking TBC ini terutama dilakukan untuk lokasi-lokasi yang memang di situ sudah ditemukan penderita positif TBC,” ucapnya.
TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan umumnya menyerang paru-paru. Penularan dapat terjadi melalui udara ketika penderita TBC aktif mengeluarkan partikel yang mengandung bakteri.
Karena itu, penemuan kasus secara dini, pemeriksaan terhadap orang yang berisiko, serta pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan menjadi bagian penting dalam pengendalian penyakit ini.
Dinkes Kutai Timur menargetkan seluruh rangkaian skrining dan pelacakan dapat diselesaikan sesuai jadwal. Hasil kegiatan nantinya menjadi bagian penting untuk mengetahui perkembangan penanganan TBC serta menentukan tindak lanjut berdasarkan temuan di lapangan.
Masyarakat juga diharapkan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada TBC atau memiliki riwayat kontak dengan penderita. Pemeriksaan lebih awal dapat membantu memastikan diagnosis dan mempercepat penanganan yang diperlukan, sekaligus mendukung upaya pencegahan penularan di masyarakat. (SH/ADV)
![]()

Tidak ada komentar