Layanan HIV Kutim Diperkuat, Fenomena Gunung Es Masih Jadi Tantangan Penanganan

waktu baca 2 menit
Rabu, 16 Sep 2026 09:38 0 12 Redaksi

Kutai Timur – Penanggulangan HIV dan AIDS di Kabupaten Kutai Timur terus diperkuat menuju target eliminasi HIV pada 2030, namun upaya menemukan kasus masih menghadapi tantangan karena HIV merupakan isu sensitif dan pemeriksaannya harus dilakukan secara sukarela.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur Yuwana Sri Kurniawati mengatakan program penanggulangan HIV tetap berjalan dengan dukungan regulasi daerah serta keterlibatan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD).

Menurutnya, keberadaan Peraturan Daerah (Perda) menjadi dasar yang menaungi pelaksanaan program di tingkat kabupaten, sementara pengelolaan data kasus dilakukan melalui satu pintu menggunakan sistem Satu Sehat Kementerian Kesehatan.

Persoalan utama dalam penanganan HIV bukan hanya memastikan layanan tersedia, tetapi juga mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan sehingga kasus yang belum terdeteksi dapat ditemukan lebih awal.

“Untuk HIV AIDS ini kan hal yang sensitif, di satu sisi kita ingin tahu sebanyak-banyaknya angka positif supaya kita bisa memutus mata rantai,” kata Yuwana di Kantor Dinkes Kutim, Rabu (16/9/2026).

Ia menyebut kondisi tersebut seperti fenomena gunung es karena jumlah kasus yang terlihat di permukaan belum tentu menggambarkan keseluruhan kasus yang ada, sementara pemeriksaan HIV tidak dapat dilakukan secara paksa dan harus berdasarkan kesediaan orang yang diperiksa.

“Di situ diatur bahwa untuk pemeriksaan HIV ini tidak boleh dipaksa, harus sukarela,” ujarnya.

Dinkes memastikan pemeriksaan HIV tersedia secara gratis sebagai bagian dari program nasional, termasuk obat antiretroviral atau ARV bagi pasien yang dinyatakan positif dan membutuhkan pengobatan.

Pasien yang telah terdiagnosis positif kemudian diarahkan menjalani pengobatan ARV secara rutin, dengan pemeriksaan viral load dilakukan setelah periode pengobatan tertentu untuk memantau kondisi pasien.

“Kalau sudah viral load-nya tercapai di angka tertentu, itu nanti tidak menularkan ke orang lain, dia sendiri juga kondisinya tentunya akan semakin membaik kualitas hidupnya,” jelasnya.

Yuwana menegaskan pengobatan HIV tidak berarti penyakit tersebut sembuh, tetapi terapi rutin dapat membantu mempertahankan kualitas hidup pasien, sedangkan pengobatan tetap harus dijalani seumur hidup dan obatnya ditanggung pemerintah.

Layanan pemeriksaan dan pengobatan telah disiapkan di Puskesmas dengan tim serta obat, sementara rumah sakit menyediakan ruangan khusus, termasuk untuk menjaga kerahasiaan pasien yang khawatir mengalami stigma atau malu saat memeriksakan diri.

“Yang penting sekarang adalah edukasi siapapun itu, bahkan kita mungkin enggak merasa punya perilaku yang tidak benar atau mungkin merasa sehat saja, tidak ada salahnya kalau kita deteksi dini untuk melakukan pemeriksaan HIV,” tandasnya. (SH/ADV)

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA