Anggota Komisi II DPRD Kota Samarinda, Joha Fajal.
Noisenews.co, Samarinda — Meningkatnya harga bahan pokok di Kota Samarinda dinilai bukan semata-mata disebabkan oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Anggota DPRD Samarinda, Joha Fajal mengatakan kenaikan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh meningkatnya biaya logistik dalam proses distribusi pangan dari luar daerah menuju Samarinda.
Joha Fajal, menilai melemahnya nilai tukar rupiah secara tidak langsung berdampak pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), yang kemudian berimbas pada meningkatnya biaya transportasi untuk distribusi kebutuhan pokok antarwilayah dan antarpulau. Berdasarkan data terbaru pada Kamis, 11 Juni 2026 pukul 09.14 UTC atau 17.14 Wita (UTC+8), nilai tukar 1 Dolar Amerika Serikat tercatat menembus angka Rp18.002.
“Kalau dari sisi logika itu karena BBM. Karena belanjanya kita tidak menggunakan dolar, tapi karena pengaruhnya dolar itu kaitannya dengan minyak,” kata Joha, ditemui di DPRD Samarinda, pada Kamis (11/6/2026).
Joha menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah memiliki keterkaitan langsung dengan kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok melalui sektor energi dan distribusi. Sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak mentah, Indonesia melakukan transaksi pembelian menggunakan dolar AS, sementara distribusi dan penjualannya di dalam negeri menggunakan rupiah. Ketika nilai rupiah melemah, biaya pengadaan energi dan BBM otomatis ikut meningkat.
“Dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, otomatis akan berpengaruh ke harga,” ujar Joha.
Kenaikan biaya energi tersebut kemudian berdampak pada sektor transportasi dan logistik. Menurut Joha, sektor ini menjadi faktor utama yang memengaruhi perubahan harga bahan pokok di berbagai daerah, termasuk Kota Samarinda.
Ia menilai, apabila kebutuhan pangan diproduksi secara lokal tanpa memerlukan distribusi jarak jauh, maka harga komoditas di tingkat konsumen cenderung lebih stabil.
Namun hingga saat ini sebagian besar kebutuhan pangan masyarakat Samarinda masih dipasok dari luar daerah bahkan luar pulau melalui rantai distribusi yang cukup panjang. Komoditas pangan tersebut harus melalui pengiriman menggunakan kapal laut antarpulau sebelum kembali didistribusikan menggunakan armada transportasi darat. Seluruh proses distribusi itu sangat bergantung pada penggunaan bahan bakar minyak.
“Namun karena distribusi barang menggunakan transportasi yang bergantung pada bahan bakar, hal itulah yang memicu kenaikan harga,” jelas Joha.
Di akhir keterangannya, Joha menegaskan pentingnya langkah pemerintah daerah dalam menjaga efisiensi distribusi pangan agar kenaikan biaya logistik tidak semakin membebani masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan.
“Seandainya bahan pokok itu tidak memerlukan transportasi, mungkin harganya tidak akan naik,” kunci Joha Fajal. (Rad/ADV/DPRD Samarinda)

Tidak ada komentar