Kutai Timur – Harapan besar terhadap sorgum sebagai salah satu komoditas alternatif di Kutai Timur kembali meredup setelah sempat mencuat sebagai tanaman yang dinilai mampu memperkuat ketahanan pangan daerah. Beberapa tahun lalu, sorgum bahkan digadang-gadang menjadi komoditas strategis yang dapat membuka peluang baru bagi para petani. Namun, kenyataan di lapangan justru menunjukkan arah sebaliknya. Program pengembangannya kini terhenti karena ketiadaan pasar yang dapat menyerap hasil panen.
Sejumlah pihak yang terlibat dalam program menilai bahwa secara konsep, sorgum sejatinya memiliki prospek cerah. Tanaman ini dikenal tahan terhadap kondisi lahan kering, mudah dibudidayakan, dan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. “Dalam kajian kami, sorgum memiliki nilai ekonomi yang cukup menjanjikan dan dapat diolah menjadi bahan pakan ternak,” tutur Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Pangan Kutai Timur, Dyah Ratnaningrum.
Namun, optimisme tersebut tidak berjalan mulus ketika diterapkan di lapangan. Setelah petani mulai melakukan produksi, justru muncul persoalan baru yang cukup krusial: tidak adanya pihak yang membeli atau mengelola hasil panen. “Ketika produksi sudah berjalan, justru muncul persoalan baru karena tidak ada pihak yang membeli atau mengelola hasil sorgum tersebut,” jelas Dyah.
Ketiadaan pasar ini menjadi titik balik yang membuat petani memilih berhenti menanam sorgum. Tanpa kepastian penyerapan hasil panen, kelanjutan program tidak dapat dipertahankan. “Situasi ini berdampak langsung sehingga pengembangan sorgum di Kutai Timur tidak dapat dilanjutkan,” tegasnya.
Melihat kondisi tersebut, Pemkab Kutim dinilai perlu melakukan evaluasi menyeluruh agar program sorgum dapat dirancang ulang dengan lebih matang. Upaya yang diperlukan mencakup pembukaan akses pasar, kerja sama dengan industri pengolahan, dan pendampingan intensif bagi petani. Tanpa dukungan itu, potensi sorgum dikhawatirkan hanya akan menjadi wacana yang tidak pernah benar-benar berkembang. (SH/ADV)
![]()

Tidak ada komentar