East Borneo Youth Talent 2024. (Ist)
Noisenews.co, Samarinda – Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur (Kaltim) dalam upaya menghidupkan kembali warisan budaya lokal kini dilakukan dengan cara yang kreatif dan menyenangkan. Kali ini Dispora Kaltim melakukan inisiatif segar yang menyatukan unsur fisik dan seni dalam satu ruang perayaan.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang perlombaan olahraga tradisional, melainkan juga menjadi panggung besar bagi ekspresi budaya daerah yang perlahan mulai terlupakan. Tujuan utamanya sederhana namun bermakna dalam: menanamkan kembali kecintaan generasi muda terhadap tradisi leluhur mereka.
“Festival ini kami hadirkan agar anak-anak muda Kalimantan Timur bisa mengenal kembali kekayaan budaya daerah. Tidak hanya lewat buku, tetapi dengan mengalami langsung dan merasa bangga,” ujar Sulaiman, Analis Kebijakan Ahli Muda Dispora Kaltim, saat ditemui di sela kegiatan.
Festival yang digelar di ruang terbuka ini memperlihatkan aneka permainan tradisional yang selama ini jarang terlihat dalam aktivitas masyarakat sehari-hari, seperti balogo, enggrang, dan terompah panjang. Uniknya, masyarakat yang datang tak hanya menjadi penonton, tapi juga diajak ikut bermain dan merasakan sensasi permainan yang dulu menjadi bagian dari keseharian anak-anak di kampung.
Tawa riang dan sorakan anak-anak yang berlarian dengan enggrang, atau bersaing menjaga keseimbangan di atas terompah panjang, menjadi bukti bahwa warisan budaya itu tidak pernah benar-benar usang ia hanya menunggu momentum untuk kembali hidup. Tidak berhenti di olahraga, festival ini juga menjadi wadah ekspresi seni melalui pentas budaya yang menampilkan tari-tarian daerah, musik tradisional, serta aneka kuliner khas Kalimantan Timur.
Seniman lokal dari berbagai kabupaten/kota turut memeriahkan acara dengan pertunjukan yang menggugah nostalgia dan kebanggaan terhadap identitas lokal.
Menurut Sulaiman, integrasi antara olahraga tradisional dan seni budaya ini diharapkan dapat memperkuat rasa kepemilikan masyarakat terhadap tradisi mereka sendiri. Di tengah derasnya arus globalisasi, menjaga nilai-nilai lokal menjadi tantangan sekaligus keharusan.
“Ini bukan sekadar hiburan. Ini adalah pengingat bahwa jati diri kita terbentuk dari warisan budaya yang mesti kita rawat dan lestarikan,” tegasnya.
Lebih dari sekadar festival tahunan, Dispora Kaltim menargetkan kegiatan ini menjadi pemantik lahirnya inisiatif serupa di daerah-daerah lain. Dengan menempatkan budaya sebagai fondasi pembangunan karakter pemuda, diharapkan muncul generasi baru yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai lokal. (Rad/ADV/Dispora Kaltim)

Tidak ada komentar