Anggota DPRD Kaltim, H. A. Jawad Sirajuddin, S.H, M.H saat menyampaikan sambutan pada Sosbang, Senin (18/3/24). (Ist)
Noisenews.co, Kutai Kartanegara – Anggota DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Jawad Sirajuddinkembali melaksanakan Sosialisasi Wawasan Kebangsaan (Sosbang) ke- 3 Tahun 2024 tentang Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika di Desa Karang Tunggal, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), pada Senin (18/3/24).
Sosialisasi ini dihadiri oleh sejumlah masyarakat sekitar, pengurus Rukun Tetangga (RT) dengan narasumber Zulkifli Allkaf dan M. Rayis Jawad, dan Yayuk Sehati sebagai Moderator.
Legislator asal PAN yang kerab di sapa Jawad dalam sambutannya mengatakan, sosbang ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang perbedaan yang beragam di Indonesia khususnya di lingkungan masyarakat sekitar.
“Kegiatan ini sudah ada tercantum dalam Badan Musyawarah (Banmus) maka kita sebagai perwakilan rakyat harus melakukan sosialisasi ini agar bisa memperkuat penahaman masyarakat terkait keberagaman di sekitar kita” ujar Jawad.
Jawad juga mengatakan pentingnya peran orang tua untuk paham akan rasa nasionalisme yang mana akan di ajarkan kepada anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.
“Kita sebagai orang tua harus terlebih dahulu paham akan rasa nasionalisme untuk mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika, nantinya ini akan kita ajarkan ke anak-anak kita”, imbuhnya.

Dilanjut Zulkifli Alkaf mengatakan bahwa Indonesia ini sangat luas, banyak sekali keberagaman dari adat, suku, budaya, agama dan lain sebagainya, namun semua itu merupakan satu kesatuan yaitu Indonesia.
“Kita tinggal di Indonesia yang memiliki banyak sekali keberagaman, nah dengan adanya sosialisasi ini semoga kita semua bisa saling memahami bagaimana cara kita bersikap sebagai warga negara yang menghargai 4 Pilar Kebangsaan” kata Zulkifli.
Zulkifli berharap dengan adanya pemahaman 4 pilar kebangsaan ini kepada masyarakat dapat menjadi pedoman untuk anak- anak mereka.
Dilanjut Rayis Jawad mengatakan bahwa sekarang menurunnya jiwa saling menghargai perbedaan terutama dalam suku dan bahasa, hal ini rentan ditemukan di kalangan anak-anak.
“Sekarang coba kita liat, banyak sekali anak-anak yang sering menjadikan bahasa dan budaya sebagai bahan ejekan”, kata Irwansyah saat menyampaikan materi.
Rayis juga berharap masyarakat sekitar khususnya tidak pernah membanggakan budaya ras atau agama sendiri dengan menjatuhkan budaya ras atau agama orang lain, sehingga tetap menjadi satu kesatuan yang utuh. (Aji/ADV)

Tidak ada komentar