Produktivitas Padi Kaubun Ditargetkan 10 Ton, Serapan Gabah Jadi Tantangan

waktu baca 2 menit
Jumat, 2 Okt 2026 11:25 0 16 Redaksi

Kutai Timur – Program PM-AAS (Pertanian Modern – Advanced Agriculture System) ditargetkan mendorong produktivitas padi di Kaubun hingga delapan sampai 10 ton per hektare, tetapi peningkatan produksi berpotensi kembali menekan kapasitas pembelian dan pengolahan apabila kesiapan hilir tidak berjalan bersamaan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kutai Timur Dyah Ratnaningrum mengatakan sekitar 450 hektare lahan di Kobun ditargetkan mengikuti program PM-AAS yang diarahkan untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi.

“PM-AAS itu menargetkan produktivitas sekitar delapan sampai 10 ton per hektare,” kata Dyah di Kantor Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kutai Timur.

Menurutnya, petani Kobun direncanakan kembali melakukan penanaman pada Oktober setelah menyelesaikan panen yang berlangsung pada Agustus dan September, sementara waktu tanam tetap menyesuaikan kondisi hujan meskipun kawasan tersebut telah menggunakan irigasi teknis.

“Kemarin di Kaubun kalau tidak salah sekitar 450 hektare ditargetkan mengikuti program PM-AAS,” ujarnya.

Jika penanaman dimulai Oktober, rangkaian pertumbuhan tanaman diperkirakan berlanjut hingga Januari sehingga panen kembali dapat dimulai pada Januari dan dilanjutkan pada Februari sesuai siklus tanam yang berjalan.

“Kalau mulai tanam Oktober, kemudian November, Desember dan Januari, maka Januari sudah mulai panen lagi dan dilanjutkan panen berikutnya pada Februari,” jelasnya.

Target produksi yang lebih tinggi membuat persoalan serapan menjadi semakin penting karena tambahan hasil panen harus segera memiliki pembeli dan fasilitas pengolahan agar tidak menimbulkan persoalan baru bagi petani.

Dyah berharap pembangunan gudang Bulog dapat selesai sebelum panen berikutnya sehingga hasil produksi dari Kaubun memiliki tempat penyimpanan dan dapat langsung diserap ketika memasuki masa panen.

“Harapannya pada saat panen berikutnya gudang Bulog sudah selesai dibangun sehingga hasil produksi petani bisa langsung terserap,” tuturnya.

Menurutnya, peningkatan produktivitas tidak dapat hanya bertumpu pada kegiatan tanam karena semakin besar produksi gabah, semakin besar pula kebutuhan terhadap pembeli dan sarana pengolahan yang mampu menangani hasil panen.

“Peningkatan produktivitas ini tentu akan membuat produksi gabah semakin besar, sehingga kesiapan pembeli dan sarana pengolahan juga harus disiapkan sejak awal,” katanya.

Kesiapan hilir menjadi pekerjaan penting karena peningkatan produksi tanpa kepastian pasar dapat kembali menempatkan petani pada persoalan yang sama ketika panen, sehingga program peningkatan produktivitas perlu berjalan beriringan dengan penguatan rantai pascapanen.

“Karena itu, peningkatan produksi tidak bisa hanya berbicara mengenai kegiatan tanam, tetapi harus dibarengi kesiapan hilir agar hasil panen petani tetap memiliki pasar,” tandasnya.

Dengan target produktivitas hingga 10 ton per hektare, keberhasilan PM-AAS di Kaubun pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meningkatkan hasil lahan, tetapi juga kesiapan sistem penyerapan dan pengolahan agar tambahan produksi benar-benar memberikan kepastian bagi petani. (SH/ADV)

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA