Malaria Kutim Muncul di Empat Lokus, Pekerja Hutan Jadi Sasaran Pencegahan

waktu baca 2 menit
Rabu, 7 Okt 2026 09:45 0 24 Redaksi

Kutai Timur – Target eliminasi malaria di Kabupaten Kutai Timur masih menghadapi tantangan setelah peningkatan kasus membuat wilayah perhatian bertambah menjadi empat lokus yang perlu mendapat penanganan berkelanjutan.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Dinkes Kutim), Sumarno mengatakan, sebelumnya wilayah yang menjadi perhatian meliputi Karangan, Sandaran dan Sangkulirang, kemudian Teluk Pandan mengalami peningkatan sehingga masuk dalam lokus malaria.

Menurutnya, target eliminasi malaria di Kalimantan Timur ditetapkan lebih cepat dibandingkan target nasional, yakni pada 2027 sedangkan secara nasional eliminasi ditargetkan tercapai pada 2030 sehingga pengendalian di tingkat daerah perlu diperkuat.

“Malaria ini sebenarnya kita targetkan untuk eliminasi, kalau untuk Kalimantan Timur seharusnya pada 2027, sedangkan target nasional eliminasi malaria pada 2030,” ujar Sumarno di Kantor Dinkes Kutim, Rabu (7/10/2026).

Ia menjelaskan, eliminasi tidak hanya ditentukan dari ada atau tidaknya kasus, tetapi memiliki sejumlah indikator yang harus dipenuhi termasuk angka Annual Parasite Incidence (API) yang harus berada di bawah satu per seribu penduduk.

Selain itu, tidak boleh terjadi penularan setempat selama tiga tahun berturut-turut dan angka positif berdasarkan pemeriksaan juga harus berada di bawah batas yang telah ditentukan sebagai bagian dari persyaratan eliminasi.

“Di Kutai Timur ada beberapa lokus yang menjadi perhatian, sebelumnya ada Karangan, Sandaran dan Sangkulirang, kemudian sekarang terjadi peningkatan di Teluk Pandan sehingga menjadi empat lokus,” jelasnya.

Untuk menekan risiko penularan, Dinkes Kutim menempatkan kader di wilayah lokus malaria dan meningkatkan kemampuan mereka melalui pelatihan, termasuk pelatihan yang saat ini dilaksanakan di Q Hotel.

Perhatian khusus diarahkan kepada pekerja yang beraktivitas di kawasan hutan karena kelompok tersebut menjadi sasaran dalam kegiatan pemeriksaan dan pencegahan yang dilakukan oleh kader di lapangan.

“Kader tersebut nantinya melakukan pemeriksaan terlebih dahulu kepada pekerja sebelum memberikan obat, sehingga masyarakat yang positif mendapatkan pengobatan malaria,” tuturnya.

Bagi masyarakat yang hasil pemeriksaannya tidak menunjukkan infeksi, pencegahan tetap dilakukan sesuai ketentuan melalui pemberian obat pencegahan dan kelambu sehingga upaya pengendalian tidak hanya menunggu munculnya kasus.

“Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah penularan malaria sekaligus mendukung pencapaian target eliminasi malaria di Kutai Timur,” tandasnya. (SH/ADV)

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA