Munaslub Sepak Takraw Memanas: Karateker Dituding Tak Netral, Tiga Provinsi Dipersulit Masuk Forum

waktu baca 2 menit
Minggu, 26 Okt 2025 03:12 0 762 Redaksi

Noisenews.co, Jakarta – Suasana menjelang Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) organisasi sepak takraw memanas. Perwakilan dari tiga provinsi menyatakan kekecewaannya terhadap sikap perwakilan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat yang dinilai tidak kooperatif dalam menerima keikutsertaan delegasi mereka.

Ketiga provinsi tersebut diketahui memiliki Surat Keputusan (SK) kepengurusan yang masih berlaku hingga 2027 dan telah dilantik secara resmi oleh KONI provinsi masing-masing, bahkan dihadiri langsung oleh gubernur daerah. Namun, menurut sumber dari perwakilan daerah, alasan penolakan yang disampaikan pihak KONI pusat dianggap tidak masuk akal dan tidak berdasar.

“KONI ini seharusnya menjalankan setiap pengambilan keputusan secara objektif dan berdasar aturan. Anehnya, tiga provinsi yang sah secara administrasi justru dipersulit masuk forum rakorsul,” ujar Irwan salah satu perwakilan daerah dengan nada kecewa.

Mereka juga meminta Ketua Karateker turun tangan untuk menengahi persoalan ini. Menurut mereka, ada dugaan keberpihakan antara pihak karateker dengan salah satu calon Ketua Pengurus Besar (PB).

“Kami menduga karateker tidak independen. Bahkan ada nama yang menjadi saksi di pengadilan BAKI kini justru tercatat sebagai panitia karateker. Ini sangat tidak rasional,” tegasnya.

Pihaknya mengingatkan bahwa karateker sebelumnya telah berjanji akan bersikap independen dan netral dalam mengawal Munaslub, namun realitanya dianggap jauh dari harapan.

Selain itu, sejumlah peserta menilai, dinamika dalam tubuh organisasi sepak takraw sudah terlalu sering diwarnai konflik internal, mulai dari permasalahan Munas di Sukabumi, sengketa BAKI, hingga kebijakan karateker yang kerap menimbulkan riak di daerah.

Mereka pun berharap Ketua KONI dan Ketua Karateker dapat menangani situasi ini dengan bijaksana agar tidak menimbulkan keributan berkepanjangan yang dapat merugikan atlet.

“Jangan sampai ujungnya saling lapor ke pengadilan. Kasihan atlet daerah bahkan atlet pelatnas bisa menjadi korban. Tujuan kita berorganisasi adalah membangun dan memfasilitasi atlet agar berprestasi,” ujarnya.

Sebagai catatan, tim sepak takraw Indonesia telah menorehkan prestasi gemilang dengan perolehan medali emas berturut-turut di ajang internasional sejak tahun 2018 hingga 2023. Para pengurus berharap, kisruh organisasi ini tidak mengganggu fokus pembinaan dan prestasi para atlet di masa depan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA