Jalan Sangkima-Sangatta Selatan Terputus TNK, Warga Bergantung Akses Pertamina

waktu baca 2 menit
Jumat, 9 Okt 2026 14:32 0 20 Redaksi

Kutai Timur – Akses darat dari Sangkima dan Teluk Singkama menuju Sangatta Selatan masih menghadapi persoalan karena jalur yang dibutuhkan masyarakat belum dapat dibangun pemerintah akibat melintasi kawasan Taman Nasional Kutai (TNK).

Kepala Desa Sangkima Muhammad Alwi mengatakan wilayah permukiman yang berada di kawasan Areal Penggunaan Lain (APL) sebenarnya belum terhubung satu sama lain, sehingga masyarakat masih membutuhkan akses alternatif untuk menuju pusat pemerintahan kabupaten.

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap kebutuhan pelayanan dasar karena jalan menjadi penunjang penting bagi masyarakat untuk mengakses fasilitas kesehatan dan pendidikan di luar wilayah mereka.

“Selama ini masyarakat masih menggunakan jalan milik Pertamina karena akses jalan pemerintah belum bisa dibangun akibat adanya kawasan TNK,” kata Alwi di Gedung Serba Guna (GSG).

Menurutnya, ketergantungan terhadap jalan Pertamina bukan solusi jangka panjang karena akses tersebut merupakan jalan milik perusahaan yang memiliki ketentuan serta keterbatasan tersendiri bagi masyarakat yang menggunakannya.

Alwi menyebut persoalan konektivitas tersebut telah berlangsung sangat lama, bahkan sejak Indonesia merdeka, Sangkima dan Teluk Singkama belum memiliki jalan pemerintah yang menghubungkan langsung kawasan tersebut dengan pusat kabupaten.

“Sejak Indonesia merdeka, kurang lebih 80 sampai 81 tahun, Sangkima dan Teluk Singkama belum memiliki jalan yang dibangun pemerintah menuju pusat kabupaten,” ujarnya.

Ia mengatakan pemerintah perlu mencari mekanisme pembangunan yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat tanpa mengabaikan batas kawasan TNK, sebab persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aktivitas ekonomi tetapi juga akses pelayanan dasar.

Alwi mengingatkan pernah terdapat jalan lingkar yang dibuka pada masa Bupati Kutai Timur pertama Awang Faroek, namun jalur tersebut kini kembali menjadi kawasan berhutan sehingga belum dapat menjadi solusi konektivitas masyarakat.

Menurutnya, pembukaan dan pelanjutan kembali akses tersebut berpotensi mempermudah perjalanan masyarakat dari Sangkima menuju Sangatta Selatan, terutama bagi warga yang membutuhkan akses pendidikan dan kesehatan.

“Harapan kami pemerintah bisa melihat persoalan ini sebagai kebutuhan dasar masyarakat sekaligus mencari mekanisme pembangunan yang tetap menghormati batas kawasan TNK,” tandasnya. (SH/ADV)

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA