Pengembangan Kakao Kutai Timur Terkendala Tanaman Tua dan Minimnya Produk Olahan Bernilai

waktu baca 2 menit
Senin, 5 Okt 2026 08:32 0 91 Redaksi

Kutai Timur – Pengembangan komoditas kakao di Kabupaten Kutai Timur masih menghadapi tantangan berupa tanaman yang telah berusia tua serta pengolahan hasil perkebunan yang belum maksimal, sehingga pemerintah daerah mendorong peremajaan sekaligus peningkatan nilai tambah produk.

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Kutai Timur Arief Nur Wahyuni menyampaikan, kakao dikembangkan di sejumlah wilayah, di antaranya Kecamatan Karangan, Teluk Pandan, dan Busang, dengan potensi produksi yang mulai diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Salah satu perkembangan ditunjukkan melalui pengiriman dua ton kakao fermentasi dari Karangan Hilir, sementara produk dari Teluk Pandan telah digunakan sebagai sampel dalam pesanan yang ditandatangani saat pameran Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI).

“Sudah ditindaklanjuti dengan pengiriman 2 ton untuk kakao fermentasi,” ujar Arief.

Selain pemasaran dalam bentuk biji fermentasi, Dinas Perkebunan mendorong pengolahan kakao menjadi produk siap jual melalui pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sehingga hasil perkebunan tidak berhenti pada komoditas mentah.

Arief mencontohkan produk Kakao Mantap di Pengadaan Baru yang telah menghasilkan cokelat batangan melalui inisiatif Indes, dan model tersebut dinilai dapat dikembangkan agar kakao Kutai Timur memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

“Kita dorong bagaimana kakao yang kita kirim itu sudah dalam bentuk jadinya, bukan hanya biji kering berfermentasi ini,” katanya.

Upaya tersebut akan dilakukan melalui kerja sama dengan Dinas Koperasi, terutama untuk memperkuat keterlibatan UMKM dalam proses pengolahan, pengemasan, dan pemasaran produk kakao lokal

Di sisi lain, persoalan tanaman tua menjadi perhatian tersendiri, khususnya kakao di Kecamatan Busang yang dinilai membutuhkan peremajaan agar produktivitas perkebunan dapat dipertahankan dan dikembangkan.

“Yang pertama, kakao yang di Busang itu sudah tua, jadi bagaimana kemudian kita bisa melakukan replanting kakao-kakao yang sudah tua, sambil juga mencari potensi yang lain,” jelas Arief.

Pemerintah daerah kini perlu menyelaraskan program peremajaan tanaman dengan penguatan industri olahan agar pengembangan kakao tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga membuka peluang pendapatan melalui produk bernilai tambah. (SH/ADV)

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA