Ketergantungan Nasi Didorong Berkurang, Diversifikasi Pangan Kutim Diperkuat

waktu baca 2 menit
Jumat, 2 Okt 2026 11:31 0 17 Redaksi

Kutai Timur – Ketergantungan masyarakat terhadap nasi sebagai sumber pangan utama masih menjadi perhatian sehingga diversifikasi pangan didorong melalui pengenalan sumber karbohidrat dan zat gizi lain serta pemanfaatan pekarangan rumah.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kutai Timur Dyah Ratnaningrum mengatakan program Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman atau B2SA menjadi salah satu upaya mengenalkan pola konsumsi pangan yang lebih beragam kepada masyarakat.

“Di bidang konsumsi pangan ada program B2SA, yaitu beragam, bergizi, seimbang dan aman,” kata Dyah di Kantor Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kutai Timur.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa pemenuhan kebutuhan karbohidrat, protein dan zat gizi lainnya tidak harus selalu bersumber dari nasi, sehingga pilihan pangan lain perlu dikenalkan sejak usia sekolah.

“Kita perlu mengenalkan kepada masyarakat bahwa sumber pangan tidak harus selalu nasi, tetapi ada pilihan lain untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein dan zat gizi lainnya,” ujarnya.

Kegiatan B2SA juga diarahkan kepada anak-anak sekolah agar pemahaman mengenai pangan selain beras terbentuk sejak dini, termasuk dengan tetap memperhatikan unsur gizi, rasa dan keseimbangan pangan.

“Biasanya dalam kegiatan B2SA kami mengundang anak-anak sekolah supaya sejak dini mereka mengenal pangan selain beras yang tetap bergizi, enak dan seimbang,” jelasnya.

Program tersebut dilaksanakan bersama PKK dan pada 2026 telah digelar pada awal Agustus, sementara upaya diversifikasi juga diperluas melalui program teras pangan yang memanfaatkan lahan pekarangan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Teras pangan bisa digunakan untuk menanam sayuran, cabai dan terong, sekaligus memelihara ayam atau mengembangkan ikan seperti lele dan nila,” tuturnya.

Menurut Dyah, pemanfaatan pekarangan memang dilakukan dalam skala rumah tangga, tetapi penerapan secara masif dapat memperkuat ketahanan pangan keluarga karena sebagian kebutuhan dapat dipenuhi dari lingkungan tempat tinggal sendiri.

Pemerintah daerah juga telah menerbitkan surat edaran Bupati mengenai gerakan menanam serentak yang ditujukan kepada organisasi perangkat daerah, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, sekolah dan perusahaan agar pemanfaatan pekarangan diperluas.

“Gerakan menanam ini tidak diarahkan dalam skala besar, tetapi bagaimana masyarakat memanfaatkan pekarangan untuk memperkuat pangan keluarga,” katanya.

Selain memperkuat ketersediaan pangan keluarga, penanaman komoditas seperti cabai dan sayuran di rumah dinilai dapat membantu mengendalikan inflasi karena kebutuhan masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan pasar.

“Kalau setiap rumah dan kantor menanam cabai, maka kebutuhan cabai tidak seluruhnya bergantung pada pasokan pasar,” tandasnya.

Gerakan diversifikasi dan pemanfaatan pekarangan karena itu diarahkan bukan sekadar mengubah pola konsumsi, tetapi membangun sumber pangan alternatif dari tingkat keluarga sekaligus membantu menjaga stabilitas harga ketika pasokan komoditas tertentu mengalami tekanan. (SH/ADV)

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA