Ketiadaan SMA dan Akses Jalan Picu Risiko Anak Sangatta Selatan Putus Sekolah

waktu baca 2 menit
Kamis, 1 Okt 2026 11:59 0 32 Redaksi

Kutai Timur – Ketiadaan sekolah menengah atas (SMA) di wilayah Sangkima dan Teluk Singkama menjadi salah satu persoalan pendidikan di Kecamatan Sangatta Selatan, karena sebagian anak harus melanjutkan sekolah ke luar wilayah dengan akses perjalanan yang cukup jauh.

Saat ini kedua wilayah tersebut disebut baru memiliki sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, sehingga anak yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA harus menempuh perjalanan menuju kawasan lain.

Kondisi tersebut semakin kompleks karena akses menuju kota masih menghadapi risiko perjalanan, sementara waktu pulang sekolah yang cukup sore membuat anak berpotensi tiba di rumah menjelang malam.

Camat Sangatta Selatan Dewi Dohi mengatakan kondisi tersebut turut memengaruhi keberlanjutan pendidikan anak di Sangkima dan Teluk Singkama, di Kantor Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur.

“Di wilayah Sangkima dan Teluk Singkama itu belum ada SMA, baru ada SMP dan SD,” kata Dewi.

Menurut dia, ketiadaan SMA membuat sebagian masyarakat di kedua wilayah tersebut memilih menghentikan pendidikan anak setelah menyelesaikan SMP, salah satunya karena jarak menuju sekolah lanjutan di luar wilayah cukup jauh.

“Karena tidak ada SMA, umumnya masyarakat kami yang di wilayah Sangkima dan Teluk Singkama berhentinya hanya sampai SMP,” ujarnya.

Persoalan akses juga menjadi pertimbangan karena anak yang bersekolah di luar wilayah harus menempuh perjalanan melalui jalur yang masih memiliki sejumlah risiko, termasuk ketika menggunakan akses Pertamina yang disebut memiliki titik-titik dengan permukiman.

“Anak-anak SMA pulang sekolah biasanya 16.30, sampai di rumah bisa magrib,” tuturnya.

Pilihan untuk menyekolahkan anak di luar desa juga dapat membuat orang tua harus menanggung biaya kos agar anak lebih dekat dengan sekolah, sehingga pengawasan langsung keluarga terhadap aktivitas anak menjadi berkurang.

“Ketika anak-anak disekolahkan di luar desanya, kemungkinan besar orang tua harus mengkoskan anak-anak, risikonya si anak-anak jadi tidak didampingi langsung oleh orang tuanya,” jelasnya.

Dewi juga menyebut terdapat anak yang berhenti sekolah setelah mengalami kejadian yang disebutnya sebagai accident, selain persoalan pergaulan bebas dan faktor lainnya yang dinilai turut memengaruhi keberlanjutan pendidikan.

“Dan fatalnya banyak yang berhenti sekolah karena accident, karena pergaulan bebas dan lain sebagainya,” tandasnya.

Kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan akses pendidikan dan konektivitas jalan menjadi persoalan yang saling berkaitan bagi masyarakat Sangkima dan Teluk Singkama, terutama agar anak dapat melanjutkan pendidikan tanpa menghadapi hambatan jarak dan perjalanan yang terlalu berat. (SH/ADV)

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA