Kutai Timur – Peningkatan produksi padi dari program Kementerian Pertanian seluas 850 hektare berpotensi kembali menghadapi persoalan serapan apabila gudang Bulog belum tersedia saat panen berlangsung pada Januari hingga Februari 2027.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kutai Timur mengatakan program tersebut telah dikontrak Dinas Pertanian bersama Kementerian Pertanian dengan target produktivitas delapan hingga 10 ton per hektare.
“Kalau menggunakan hitungan delapan ton per hektare saja, dari 850 hektare akan menghasilkan sekitar 6.800 ton gabah yang harus diserap,” ujarnya pada Rapat Koordinasi Pelaksanaan Gugus Tugas Reforma Agraria Kabupaten Kutai Timur di Gedung Serba Guna Bukit Pelangi, Selasa (29/9/2026).
Dengan produktivitas maksimal 10 ton per hektare, produksi dari lahan tersebut dapat mencapai sekitar 8.500 ton sehingga kapasitas penampungan menjadi persoalan yang harus disiapkan sebelum hasil panen masuk.
Program tersebut mulai ditanam pada Oktober dengan perhitungan masa tanam yang membuat panen diperkirakan berlangsung mulai Januari hingga Februari, bertepatan dengan target penyelesaian gudang Bulog yang saat ini masih dikejar pemerintah daerah.
“Harapan kami gudang Bulog ini sudah bisa dimanfaatkan dan berdiri pada Januari, maksimal Februari,” katanya.
Menurutnya, pembangunan gudang tidak dapat dipandang sekadar sebagai fasilitas penyimpanan karena peningkatan produksi tanpa kesiapan tempat penampungan berisiko mengulang persoalan serapan gabah yang selama ini dihadapi petani.
“Kalau gudang belum selesai, kami akan kembali menghadapi persoalan yang sama karena Bulog memiliki keterbatasan tempat untuk menampung hasil panen,” tuturnya.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena Bulog memiliki amanah berdasarkan Perpres untuk menyerap gabah kering panen milik petani sesuai ketentuan harga yang telah ditetapkan, sehingga kapasitas gudang menjadi bagian dari kesiapan hilir program peningkatan produksi.
Ia mengingatkan, hasil panen yang tidak terserap dapat memengaruhi kepastian pasar bagi petani dan berisiko menurunkan minat mereka untuk kembali menanam apabila persoalan tersebut berulang.
“Padahal ketika gudang Bulog sudah tersedia di Kutai Timur, berapa pun hasil panen petani yang sesuai ketentuan akan lebih mudah diserap,” jelasnya.
Karena itu, penyelesaian gudang sebelum panen raya dinilai mendesak agar tambahan produksi dari program 850 hektare tidak berhenti pada peningkatan hasil di lahan, tetapi diikuti kemampuan menyerap gabah ketika panen mulai berlangsung. (SH/ADV)
![]()

Tidak ada komentar