Regenerasi Petani Kutim Terkendala Minat Anak Muda, Teknologi Jadi Pengungkit

waktu baca 2 menit
Jumat, 18 Sep 2026 03:36 0 83 Redaksi

Kutai Timur – Regenerasi petani menjadi tantangan yang perlu dijawab Kutai Timur di tengah peluang besar sektor pertanian, sebab minat anak muda belum otomatis tumbuh hanya dengan mengenalkan teknologi, sehingga pendekatan melalui pendidikan, pengalaman kerja, pelatihan dan pengenalan potensi usaha terus didorong.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Kutai Timur Purno Edi, di Kantor DTPHP Kutim, mengatakan pihaknya berupaya mengenalkan pertanian kepada generasi muda melalui kegiatan di kampus, program mahasiswa magang serta berbagai kegiatan yang mempertemukan anak muda dengan peluang sektor pertanian.

Menurutnya, pengenalan tersebut penting karena pilihan anak muda setelah menyelesaikan pendidikan cenderung mengarah pada kuliah atau bekerja, sehingga sektor pertanian perlu diperkenalkan sebagai bidang yang memiliki peluang ekonomi, termasuk melalui teknologi dan model usaha yang lebih modern.

“Alhamdulillah kita terlibat juga kalau setiap ada event atau momen di kampus, kemudian ada anak magang, mahasiswa magang,” ujarnya.

DTPHP juga melihat keberadaan balai latihan kerja (BLK) sebagai salah satu ruang yang dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan berbagai pilihan keterampilan, meski minat peserta terhadap sektor pertanian belum tentu muncul sejak awal.

“Kita senantiasa bahwa potensi di pertanian itu besar, sebagai contoh misalkan hidroponik, yang gunakan itu kan luar biasa pendapatannya,” jelasnya.

Purno mencontohkan perubahan fungsi bangunan di kawasan Kobun yang sebelumnya digunakan untuk rumah walet kemudian dibongkar dan dimanfaatkan menjadi tempat hidroponik sebagai gambaran bahwa peluang usaha pertanian dapat dikembangkan dengan pendekatan berbeda.

“Sekarang kita mau berharap juga, artinya untuk transformasi di horti itu banyak tanaman melon dan sebagainya bisa banyak hal, maupun melalui pekarangannya dulu bisa,” sebutnya.

Menurut Purno, pengenalan potensi pertanian juga perlu dilakukan sejak awal agar anak muda tidak hanya melihat pekerjaan di sektor tersebut sebagai aktivitas konvensional, tetapi memahami peluang usaha yang dapat menghasilkan pendapatan.

Ia menilai perbedaan antara menjadi pewaris usaha pertanian dan menjadi perintis juga perlu dipahami generasi muda karena membangun usaha dari awal membutuhkan proses, termasuk mengembangkan produk turunan yang dapat memberikan nilai ekonomi tambahan.

DTPHP berharap keterlibatan anak muda dalam berbagai kegiatan, termasuk kampus, magang, pelatihan dan pengembangan hortikultura, dapat menjadi pintu masuk regenerasi petani sekaligus mendorong transformasi pertanian Kutai Timur agar lebih menarik bagi generasi berikutnya. (SH/ADV)

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA