Rice Milling Unit Kaubun Terbatas, Lonjakan Produksi Bisa Ganggu Serapan Gabah

waktu baca 2 menit
Jumat, 2 Okt 2026 11:24 0 16 Redaksi

Kutai Timur – Peningkatan produksi padi di Kaubun berisiko tidak diikuti kemampuan pengolahan gabah karena kapasitas rice milling unit atau RMU yang tersedia saat ini masih terbatas, kondisi ini dapat kembali menghambat serapan hasil panen petani.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kutai Timur Dyah Ratnaningrum mengatakan keterbatasan RMU menjadi persoalan penting karena Bulog membutuhkan gabah yang telah diolah menjadi beras untuk disimpan di gudang.

“Bulog tidak membawa gabah ke gudang dalam bentuk gabah kering panen, tetapi dalam bentuk beras, sehingga di sinilah diperlukan rice milling unit,” kata Dyah di Kantor Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kutai Timur.

Saat ini Kaubun baru memiliki dua RMU dengan kapasitas sekitar lima ton, jumlah tersebut dinilai belum memadai untuk mengantisipasi peningkatan produksi yang ditargetkan pemerintah.

“Masalahnya, rice milling unit yang ada di Kaubun saat ini kapasitasnya baru sekitar lima ton, sehingga masih sangat kurang,” ujarnya.

Keterbatasan itu akan semakin terasa apabila program peningkatan produktivitas berhasil mendorong hasil panen hingga delapan sampai 10 ton per hektare, sebab volume gabah yang harus segera diolah otomatis ikut meningkat.

“Apalagi kalau program peningkatan produktivitas berhasil mencapai delapan sampai 10 ton per hektare, tentu jumlah gabah yang harus diolah akan jauh lebih banyak,” jelasnya.

Karena itu, Dinas Ketahanan Pangan menjadikan peningkatan kapasitas RMU di Kaubun sebagai salah satu pekerjaan rumah agar pertumbuhan produksi tidak justru menciptakan persoalan baru pada sisi hilir.

“Karena itu, salah satu pekerjaan rumah Dinas Ketahanan Pangan adalah bagaimana memperbesar kapasitas rice milling unit yang ada di Kaubun,” tuturnya.

Penguatan fasilitas tersebut akan dikomunikasikan dengan tim anggaran pemerintah daerah dan jika memungkinkan juga dengan Kementerian Pertanian, sementara Pemkab Kutai Timur telah menghibahkan lahan seluas tiga hektare kepada Bulog untuk pembangunan gudang.

Dyah berharap gudang tersebut sudah dapat digunakan pada panen berikutnya sehingga keterbatasan tempat penyimpanan tidak lagi menjadi hambatan dalam penyerapan produksi petani.

“Mudah-mudahan ketika panen berikutnya berlangsung, gudang Bulog tersebut sudah dapat digunakan sehingga persoalan penyimpanan tidak lagi menjadi kendala,” katanya.

Di wilayah lain, pemasaran gabah memiliki kondisi berbeda karena hasil panen Long Mesangat disebut langsung dibeli Perpadi dan dibawa ke Sebulu serta Samarinda, sedangkan petani Muara Wahau masih menyimpan sebagian hasil panen sebagai cadangan pangan keluarga dan menjual sebagian lainnya kepada perusahaan serta masyarakat sekitar.

Besarnya areal produksi membuat Kaubun menjadi wilayah yang paling membutuhkan penguatan kapasitas pengolahan, sehingga peningkatan produksi harus berjalan beriringan dengan kesiapan fasilitas hilir agar gabah petani tidak kembali kesulitan memperoleh serapan. (SH/ADV)

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA