Lonjakan Produksi Padi Mendesak RPU Segera Dimanfaatkan, Jangan Jadi Aset Terlantar

waktu baca 2 menit
Senin, 21 Sep 2026 11:16 0 15 Redaksi

Kutai Timur – Lonjakan produksi padi di Kutai Timur mulai menekan kemampuan fasilitas pengolahan yang tersedia, sehingga pemanfaatan Rice Processing Unit (RPU) atau Rice Milling Unit (RMU) dinilai mendesak untuk segera dilakukan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Diskepang) Kabupaten Kutai Timur Dyah Ratnaningrum mengatakan RPU merupakan fasilitas dengan dukungan anggaran pemerintah yang besar, sehingga keberadaannya harus dipastikan tidak terlantar dan dapat memberikan manfaat bagi petani.

“Apapun yang terjadi itu tidak akan kalau ini sampai terlantar, kasihan, sayang uang segitu dan ini terus terang sebenarnya ini sangat-sangat kami perlukan,” kata Dyah.

Menurutnya, pemanfaatan RPU masih membutuhkan sejumlah persiapan, mulai dari penyiapan sumber daya manusia yang akan mengelola hingga pembenahan legal standing fasilitas tersebut agar dapat digunakan secara maksimal.

Dyah menilai kebutuhan terhadap fasilitas pengolahan semakin besar seiring peningkatan produktivitas padi di Kobun, yang kini tidak lagi dapat ditangani secara optimal oleh dua RMU yang telah tersedia.

“Dulu dengan dua RMU yang ada di Kobun mungkin masih bisa mengatasi karena panen itu hanya 4 ton, 3,5 ton, 4 ton, sekarang begitu kita genjot, panen rata-rata 6,4 ton,” ujarnya.

Ia menyebut hasil panen di Kobun bahkan mencapai 7,4 ton dan 6,8 ton pada sejumlah lahan, sementara produksi lainnya berada di kisaran 5 ton lebih, sehingga kapasitas dua RMU yang ada semakin terbatas.

“Nah, ini dua RMU ini sudah enggak mengatasi, makanya itulah yang nanti insyaallah kita upayakan kita akan memanfaatkan itu,” katanya.

Kondisi tersebut menunjukkan peningkatan produksi harus diikuti kesiapan fasilitas pengolahan agar hasil panen petani tidak menghadapi hambatan setelah memasuki tahap pascapanen.

Dyah berharap RPU dapat segera dimanfaatkan setelah seluruh proses dan aspek legalitasnya diselesaikan, karena fasilitas tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk memperkuat penanganan produksi padi sekaligus memberikan manfaat langsung bagi petani Kutai Timur. (SH/ADV)

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA