Prevalensi Stunting Kutim Turun, Namun Partisipasi Penimbangan Balita Masih Rendah

waktu baca 2 menit
Rabu, 16 Sep 2026 09:38 0 12 Redaksi

Kutai Timur – Penurunan prevalensi stunting di Kabupaten Kutai Timur menjadi 12,86 persen setelah sebelumnya berada di angka 16 persen pada Juli 2026, namun capaian tersebut masih menyisakan persoalan pada partisipasi orang tua dalam pemantauan pertumbuhan balita.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur Yuwana Sri Kurniawati mengatakan penurunan tersebut berkaitan dengan pelaksanaan proyek perubahan bernama Pentas Kutim atau Pelayanan Terpadu dan Serentak untuk Menuntaskan Stunting di Kutai Timur.

Program tersebut diluncurkan dengan mendorong penimbangan anak secara serentak melalui Puskesmas, Posyandu, dan sekolah, sehingga data pertumbuhan balita dapat dihimpun lebih luas dan masuk dalam pemantauan secara daring.

Sebelum program dijalankan, partisipasi orang tua membawa anak untuk ditimbang masih berada di angka 34 persen, kondisi yang membuat pemantauan pertumbuhan balita belum mencakup sebagian besar sasaran.

“Pada awalnya di bulan Juli, angka prevalensi stunting di Kutai Timur masih 16 persen, angka kunjungan partisipasi orang tua untuk menimbang anaknya itu masih di angka 34 persen,” kata Yuwana di Kantor Dinkes Kutim, Rabu (16/9/2026).

Setelah Pentas Kutim berjalan, Dinkes mencatat partisipasi penimbangan balita meningkat menjadi 54,91 persen, sementara penarikan data pada 31 Agustus dilakukan secara daring dan langsung terhubung dengan sistem Kementerian Kesehatan.

“Di 31 Agustus kemarin sudah kita lakukan penarikan data yang langsung online di Kemenkes, angka stunting kita alhamdulillah sudah turun banyak,” ujarnya.

Yuwana menyebut angka 12,86 persen tersebut telah berada di bawah target nasional 14 persen, sehingga secara data dashboard nasional Kutai Timur tidak lagi tercatat pada angka prevalensi 16 persen seperti sebelumnya.

Namun, capaian itu tidak hanya ditempuh melalui penimbangan balita karena Dinkes juga melakukan intervensi terhadap ibu hamil yang mengalami anemia dan kekurangan energi kronis, dua kelompok yang turut menjadi perhatian dalam upaya pencegahan stunting.

“Termasuk untuk ibu hamil dengan anemia, ibu hamil dengan kekurangan energi kronis, itu juga sudah kita lakukan intervensi, angkanya juga sudah turun,” jelasnya.

Meski capaian prevalensi telah melewati target nasional, kenaikan partisipasi penimbangan menjadi 54,91 persen menunjukkan masih ada ruang besar untuk memperluas keterlibatan orang tua dalam pemantauan balita agar perubahan angka stunting dapat terus terpantau melalui data yang lebih mencakup sasaran. (SH/ADV)

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA