Kutai Timur – Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur mendorong masyarakat memperkuat pencegahan stunting sejak masa remaja, kehamilan hingga bayi dan balita, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kesehatan akibat perubahan iklim dan paparan asap kebakaran hutan.
Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur Yuwana Sri Kurniawati mengatakan stunting bukan hanya persoalan kesehatan karena berkaitan dengan gizi, sanitasi, pola asuh, serta berbagai faktor lain yang membutuhkan penanganan bersama lintas sektor.
“Mulai dari remaja, ibu hamil, sampai bayi balita, karena ini kaitannya dengan tugas kita termasuk SPM kita yaitu penanganan stunting,” ujar Yuwana.
Ia meminta orang tua yang memiliki bayi dan balita serta ibu hamil rutin memanfaatkan posyandu dan fasilitas kesehatan untuk memantau tumbuh kembang anak, sehingga persoalan dapat diketahui lebih awal dan tidak menunggu sampai kondisi stunting terlanjur terjadi.
“Jangan sampai nanti anaknya sudah terlanjur ada masalah stunting baru ditemukan dan harus ditangani, ini kan agak susah,” katanya.
Yuwana juga mengingatkan masyarakat mengikuti jadwal pemberian vitamin A bagi anak karena langkah tersebut dinilai penting untuk membantu mencegah gangguan penglihatan sekaligus mendukung upaya pencegahan stunting.
Di sisi lain, perubahan iklim dan kondisi El Nino menjadi perhatian karena dapat memunculkan krisis kesehatan, termasuk risiko meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) ketika kebakaran hutan menyebabkan paparan asap di sejumlah wilayah.
“Termasuk masalah kasus ISPA karena adanya kebakaran hutan ya, asap-asap di mana-mana,” ucapnya.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Dinkes Kutim menyiapkan kesiapsiagaan sensitif iklim melalui fasilitas kesehatan, termasuk penyediaan masker di puskesmas bagi masyarakat yang berada di wilayah dengan paparan asap.
“Kalau memang ada daerah-daerah yang banyak terpapar asap, membutuhkan masker, kami sudah mempersiapkan juga untuk masker lewat puskesmas masing-masing,” ujarnya.
Masyarakat yang membutuhkan masker dapat memperoleh melalui puskesmas, sementara apabila persediaan habis, fasilitas kesehatan dapat mengajukan kebutuhan tambahan kepada Dinas Kesehatan.
Pesan tersebut menempatkan pencegahan sebagai langkah utama, baik dalam menekan risiko stunting sejak masa awal kehidupan maupun menghadapi dampak perubahan iklim yang dapat memengaruhi kesehatan masyarakat Kutai Timur. (SH/ADV)
![]()

Tidak ada komentar