Sayembara Logo HUT Kutim Kembali Digelar, Panitia Larang Desain Buatan AI

waktu baca 2 menit
Selasa, 6 Okt 2026 15:55 0 15 Redaksi

Kutai Timur – Panitia HUT Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali menyiapkan sayembara desain logo untuk perayaan hari jadi tahun ini. Berbeda dari sekadar mencari logo, kompetisi tersebut diarahkan menjadi ruang bagi talenta lokal untuk menunjukkan kemampuan di bidang desain dan kreativitas visual secara luas.

Mekanisme sayembara saat ini masih dalam tahap pembahasan intensif panitia pelaksana. Surat edaran resmi pelaksanaan kegiatan ditargetkan mulai disebarkan pada Senin mendatang, setelah itu setiap peserta diperkirakan akan diberikan waktu sekitar tujuh hingga sepuluh hari untuk menyelesaikan dan mengirimkan karya terbaiknya.

Panitia HUT Kutim, Trisno, mengatakan kompetisi tersebut diharapkan dapat memberi kesempatan lebih besar kepada masyarakat luas di Kutim untuk menghasilkan karya kreatif yang merepresentasikan identitas daerah secara tepat.

“Harapan saya dimenangkan oleh anak-anak Kutai Timur,” ujar Trisno saat diwawancarai belum lama ini.

Pada penyelenggaraan sayembara sebelumnya, pendaftaran dibuka secara umum sehingga peserta dari berbagai daerah di seluruh penjuru Indonesia dapat mengirimkan desain karya mereka. Kondisi tersebut membuat pihak panitia pada tahun ini mempertimbangkan kembali cakupan batasan peserta secara lebih cermat.

Saat ini terdapat dua opsi utama yang sedang dibahas secara mendalam, yakni tetap membuka kompetisi secara nasional atau membatasi kepesertaan secara khusus hanya bagi warga yang berdomisili di Kutim.

“Kita tadi ada masukan, debat table tertutup atau open. Open maksudnya seperti tahun lalu, siapapun boleh daftar dari seluruh Indonesia atau tertutup syaratnya warga Kutai Timur,” jelasnya.

Selain menyoroti persoalan peserta, panitia pelaksana juga berkomitmen akan memperketat ketentuan mengenai keaslian karya. Seluruh desain yang dibuat menggunakan bantuan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dipastikan tidak diperbolehkan dalam sayembara tersebut guna menjaga sportivitas.

Bahkan, panitia telah menyiapkan aplikasi pendeteksi khusus untuk membantu memeriksa setiap desain yang masuk secara teliti. Aturan tegas ini dibuat agar karya yang dinilai benar-benar murni berasal dari kemampuan serta proses kreatif peserta itu sendiri.

Trisno menambahkan bahwa keputusan akhir mengenai mekanisme pendaftaran masih menunggu hasil pembahasan internal panitia. Namun, ia tetap berharap talenta lokal bisa keluar sebagai pemenang.

“Harapan saya sebenarnya mau terbuka atau tertutup, yang menang adalah anak-anak kreatif Kutai Timur,” demikian Trisno.ADV

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA