Efisiensi Anggaran Tunda Pembangunan Museum Budaya Kutim

waktu baca 2 menit
Minggu, 16 Nov 2025 03:37 0 33 Redaksi

Kutai Timur – Rencana pembangunan museum budaya di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terpaksa kembali ditunda akibat keterbatasan anggaran pada tahun ini. Padahal, lahan hingga proses kurasi koleksi telah disiapkan sejak awal.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Padliansyah, menjelaskan bahwa pada awalnya pihaknya sempat menganggarkan sekitar Rp2 miliar untuk tahap awal. Namun, karena kebijakan efisiensi, alokasi tersebut akhirnya dihentikan sementara.

“Kami sempat menganggarkan dua miliar, tapi untuk tahun ini dihentikan dulu. Mudah-mudahan tahun depan bisa kembali diusulkan,” ujarnya kepada awak media.

Ia menambahkan, dampak efisiensi ini tidak hanya dirasakan di sektor kebudayaan, melainkan juga oleh sejumlah bidang lainnya di lingkungan pemerintah daerah. Di sisi lain, kebutuhan anggaran untuk membangun museum sebenarnya cukup besar.

“Perkiraan biaya pembangunan bangunannya saja bisa mencapai sekitar 15 miliar. Itu belum termasuk isinya,” jelas Padliansyah.

Museum budaya ini direncanakan akan dibangun di kawasan Jalan Soekarno Hatta, pada lahan seluas kurang lebih empat hektare yang telah tersedia. Ke depannya, kawasan tersebut akan dikembangkan menjadi pusat aktivitas kebudayaan terpadu.

Tidak hanya museum, di lokasi itu juga direncanakan akan berdiri gedung pertunjukan indoor dan outdoor, area pameran UMKM, serta ruang-ruang penunjang untuk berbagai kegiatan seni dan budaya.

Meski harus tertunda, Padliansyah tetap optimistis proyek tersebut bisa terealisasi. Ia membuka peluang kerja sama dengan perusahaan-perusahaan di sekitar wilayah Kutim sebagai salah satu alternatif pembiayaan.

“Saya yakin dengan semangat gotong royong dan tetap sesuai aturan hukum, perusahaan-perusahaan bisa ikut membantu. Itu yang sedang kami kaji,” tuturnya.

Ia bahkan memunculkan opsi pembentukan yayasan atau tim khusus sebagai wadah penghimpunan dukungan secara legal dan transparan.

“Asalkan tidak melanggar ketentuan yang berlaku, kenapa tidak kami coba?” tegasnya.

Menurut Padliansyah, seluruh persiapan dasar telah tersedia. Mulai dari lahan, koleksi, hingga sumber daya manusia. Yang kini dibutuhkan hanyalah pembangunan fisik gedung sebagai rumah bagi warisan budaya tersebut.

“Tanahnya ada, koleksinya ada, SDM juga siap. Sekarang tinggal membangun tempatnya,” pungkasnya.

Loading

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA